Semangka

Dulu waktu aku masih SD, aku punya kegemaran pulang sekolah lewat sawah. Ada keasyikan tersendiri menyusuri pematang sawah saat mulai musim tandur, berjumpa dengan ibu-ibu tani yang cekatan menanam padi sambil berjalan mundur.

Ada kenikmatan saat berjalan diantara tanaman padi yang segar menghijau. Pun ketika daun dan bernas-bernas padi mulai menguning keemasan.

Lalu saat panen tiba. Rasanya ikut senang melihat para ibu tani bekerja memotong padi dengan ani-ani dan tenggok di gendongan. Bekerja cekatan sambil sesekali mengobrol dan bercanda.

Asyik juga melihat bapak dan ibu tani beristirahat sambil menikmati bekal nasi dari rumah.

Sepertinya, apapun lauk dan sayurnya, mereka benar-benar menikmati bekal itu. Kadang aku kepengen ikut makan bersama mereka lho…hehehe…

 

 

Tapi ada suatu masa ketika seluruh areal sawah itu tertutup untuk umum, sekeliling sawah yang luas berpetak-petak itu ditutup gedheg, dinding dari anyaman bambu. Ternyata, di sawah tersebut ditanami semangka atau melon, hingga sampai masa panen tiba, sawah berdinding itu selalu tertutup rapat dan terus menerus dijaga oleh beberapa lelaki.

Pernah aku merindukan berjalan melewati pematangnya, dan sebal sekali melihat gedheg-gedheg itu.

Suatu siang pulang sekolah, aku melihat sebagian dinding gedheg itu terbuka, dan beberapa truk terparkir di tepi jalan. Panen semangka!

Aku melihat bergunung-gunung tumpukan semangka. Besar-besar sekali!

Bukannya  langsung pulang ke rumah,  aku malah sengaja berhenti di situ dan menonton para lelaki itu memanen semangka, menimbang, lalu mengumpulkannya di tumpukan yang berbeda sesuai dengan besar kecilnya semangka. Di dekat truk, beberapa lelaki melemparkan semangka-semangka tadi ke atas di mana dua-tiga orang menangkap buah segar berair itu dan menyusunnya di atas bak truk… wuih… hebat! Tak ada seglundhung pun yang jatuh!

Aku jadi berandai-andai… kalau saja sekonyong-konyong aku mendapat durian runtuh sebutir semangka besar begitu, wuah… alangkah senangnya…

Aku melihat beberapa anak kecil yang mencoba-coba mengambil semangka berukuran kecil yang tak lolos seleksi. Dua tiga anak berhasil mendapatkannya dan dengan seringai puas memakannya di situ juga, mbrakoti dengan rakus hihihi… sejujurnya aku kepengen juga mendapat semangka begitu, tapi aku takut mengambilnya.

****

Dua hari panen berlangsung. Pada hari ketiga, sawah itu sudah sepenuhnya terbuka, menyisakan tanah kering dan tanaman semangka yang telah porak poranda, tercabut, terinjak dan ditinggalkan. Pemandangan yang sama sekali tidak indah.

Semua gedheg telah menghilang.

Ah, “sawahku” jadi terlihat begitu mengenaskan.

 

Kebetulan aku menemukan sebutir semangka kecil, kupungut dan kubawa pulang.

Nenekku tertawa terbahak melihat semangkaku. Katanya, pasti semangka itu belum masak dan tidak enak! Betul juga, saat dibelah, semangka itu berwarna putih pucat dan tak berasa sama sekali. Bijinya  yang biasanya hitam, hanya terlihat sebagai titik-titik putih.  Hihihi… jadilah kupakai semangka itu sebagai mainan pasaran..

Aku jadi heran, kenapa ya anak-anak yang kemarin kulihat mbrakoti semangka itu bisa terlihat begitu enak ya? Padahal semangka mereka dan semangkaku  tak jauh berbeda…

Hanya saja, semangkaku memang tak berasa, jauh dari semangka yang biasa dibeli mama di pasar. Tapi aku jadi tau, semangka yang belum masak itu seperti apa, dan rasanya pun sama sekali nggak enak.. hehehe…

****

Aku suka semangka. Buahnya yang merah segar berair itu benar-benar menggiurkan. Apalagi dinikmati saat di saat siang terik yang menyengat.

Kenapa tiba-tiba aku posting soal semangka?

Kemarin, saat aku sedang keluar rumah untuk membeli sesuatu, aku melihat seorang anak sedang asyik mbrakoti seiris semangka.

Kaosnya ternoda tetes-tetes air semangka. Wajahnya belepotan terkena semangka (bayangkan kita makan semangka seperti menempelkan harmonika di bibir, wakakaka…)

oh..oh… tentu dengan suara srat srot air semangka yang dihisap.😀

Matanya tertuju hanya pada ”harmonikanya”, kelihatan betul ia menikmati semangka itu. Ia tak menggubris dunia sekitarnya.

Nuikmat betul, Dik…

Aku tergelak-gelak tak tertahan… hahahaha… berarti aku dulu sama persis seperti anak itu! srat srot .. belepotan… mbrakoti sampai bagian yang putih dan tawar hingga tak ada warna merah tersisa…hihihi….

Sekarang setelah dewasa aku makan semangka yang sudah kupotong-potong sedemikian rupa, cukup ”sak emplokan”, sehingga tak ada air semangka yang menetes-netes, nggak ada suara menghisap, nggak ada bagian putih yang termakan… uh, eleykhan sangat…

Tapiii… menurutku sih, kayaknya paling asyik ya menikmati semangka ala harmonika itu…  srooooottt! 😀

Ada yang pernah punya cara asyik menikmati semangka? Cerita yuukk…

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Semangka

  1. Imelda says:

    cara “Lady” adalah dengan memotong kotak-kotak kecil dan makan dengan garpu kecil… tapi aku masih suka makan ala harmonika.
    Semangka adalah buah favoritku Na…dan aku lebih suka semangka Indonesia karena lebih manis drpd yg di Jepang😀

    • nanaharmanto says:

      Aku pernah dengar cerita dari temanku yang pernah tinggal di Jepang, iya semangka di jepang kurang manis, bahkan sekarang ada semangka yang dibentuk kotak, entah rekayasanya gimana tuh…

      Kalau mau praktis, makan ala harmonika…kl mau repot tapi elegan, makan ala “lady”… gitu ya Mbak hehehe…

  2. nh18 says:

    Kalo saya ?
    ya harus dipotong dadu … persegi-persegi …
    baru di emplok …

    Kalo mbrakoti itu juga enak …
    dan yang lebih asik adalah … memilih daging dan biji ..
    jadi satu gigit … lalu mulut dan lidah kita sibuk mensortir mana daging buah … mana biji …
    dapet biji … langsung … mak pluk … biji di lontarkan sedemikan rupa … hahhahaa

    salam saya

    • nanaharmanto says:

      hahahaha…. ngakak baca komen Om NH ini…
      iya bener…. keasyikan tersendiri memilih daging dan bijinya… kadang mak kremus! biji yang dikunyah! hahaha

      Tapi sekarang banyak semangka tanpa biji Om.. biasanya di hotel menyediakan yang semangka tanpa biji, udah dipotong-potong pula…🙂

  3. aurora says:

    kalau aku sih kak, apa saja bentuk semangak yang “available”…. kalau di kulkas ada yang sudah terpotong, ya sudah, makan dengan gaya elit, bersih… kalau masih bulet-bulet ya, harmonika-kan saja, bagaimanapun semangka tetep enak kok.

    suka pemandangan sawah juga ya kak? aku juga suka banget dengan pemandangan sawah. asri sekali. dulu pernah merantau 2 tahun ke Surabaya, rumah kami di bagian perkotaan, tak ada satupun sawah disana. ketika kami sekeluarga homesick, cukup pergi ke pinggiran kota dan nonton orang lagi bakar jerami di sawah, entah kenapa homesicknya jadi sedikit hilang.

    salut buat pak tani.

    • nanaharmanto says:

      Nhaaa… paling enak emang tinggal makan begini… dapet yang langsung makan, udah di kulkas pula, segeeerrr…

      Tapi aku jarang menemukan hal begini di kulkasku.. hehehe… kecuali aku sendiri yang memotong-motong dan menyimpannya di kulkas. hehehe..

      aku wong ndeso, Rif… jadi sedari kecil liat sawah… seneng aja ngeliatnya.. dulu waktu tinggal di jakarta, gak pernah liat sawah hehehe…

  4. hihihii … sensasinya memang luar biasa ya makan semangka gaya niup harmonika xixixi … suka semangka, tapi udah lama gak makan. males beli tepatnya. padahal tk buah cuma selemparan aja dekatnya.
    besok beli ah hehehe

    • nanaharmanto says:

      Ayokk beli semangka…
      aku juga pernah males beli semangka, soalnya aku pernah 2x tinggal di luar jawa, yang kalau beli semangka harus satu buletan gede utuh gitu.. kan kami cuma berdua… makan semangka paling banyak berapa sih, sisanya harus disimpan di kulkas… nah… kulkasnya yang gak muat krn kecil hehehe..

      Untung sekarang tinggal di kota yang ada supermarket yang jual semangka/melon yang cuma setengah saja… lumayan gak makan tempat kalo harus disimpen di kulkas …

  5. monda says:

    Tandur itu singkatan tanam mundur ya ?

    kalau di rumah makan semangka ya satu harmonika itu dipotong dua, kalau beli yang udah dipotong di abang rujak ya kupotel aja, belum pernah main harmonika semangka

    • nanaharmanto says:

      Iya Kak Monda, tandur itu singkatan tanam mundur.. (menanam sambil jalan mundur)

      Perasaan kl di abang-abang penjual buah itu, semangkanya terlalu tipis deh irisannya… heheheh… jadi kurang afdol makannya…

  6. ike says:

    Halo mbak Nana, saya bukan blogger tapi suka jadi silent reader-nya blog mbak Nana. Baca blog ini seperti baca buku serial Rumah Kecil nya Laura Inggals Wilder. Love it! Terus menulis ya mbak Nana..

    • nanaharmanto says:

      Halo Mbak Ike… salam kenal ya…
      Trimakasih banyak ya sudah jadi silent reader Sejutakatanana… Trimakasih apresiasinya ya…. senang rasanya kalau tulisan-tulisan kita bisa dinilmati orang lain…

      Ayo Mbak, bikin blog juga… ntar saya dikasih link-nya biar bisa berkunjung balik ke sana…

      salam hangat….

  7. krismariana says:

    Na, aku kurang suka semangka. Dulu waktu kecil pernah makan semangka, lalu keluar lagi. Sejak saat itu jadi agak trauma deh makan semangka. Tapi kalau semangka dibuat sop buah, baru bisa makan.

  8. clararch02 says:

    Saya suka potong segitiga langsing2 Mba, dan saya paling suka makan ujungnya… kalo bagian pangkal yang dekat dengan kulit udah kurang manis jadi kadang saya ga begitu suka :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s