Tau Tau

Masih posting serial Toraja. Kali ini tentang  Tau Tau yang banyak  dijumpai di situs-situs pemakaman Toraja.

Tau Tau adalah replika atau  tiruan dari orang Toraja  yang sudah meninggal. Biasanya diletakkan di sekitar tempat jenasahnya dimakamkan.

Berasal  dari kata Tau yang berarti orang atau manusia, dan disertai  pengulangan Tau yang bermakna menyerupai, Tau Tau secara harafiah berarti orang-orangan. Dalam kepercayaan Alu’  To Dolo, -paham animisme sebelum agama Kristen, Katolik dan Islam masuk-, Tau Tau bukan melambangkan badan atau raga almarhum, melainkan simbol roh atau spirit sang almarhum yang tidak ikut mati, tetapi melanjutkan kehidupan lain di alam berikutnya sesudah kematian.

Ada tiga jenis kayu sebagai bahan dasar pembuatan Tau Tau berdasarkan status sosial orang yang meninggal.

1. Bilah bambu, untuk membuat Tau Tau almarhum dari  strata status sosial terendah.

2. Kayu randu (kayu kapok dalam bahasa setempat) untuk membuat Tau Tau almarhum dari strata status sosial menengah.

3. Kayu Nangka, untuk membuat Tau Tau almarhum dengan strata sosial paling tinggi/bangsawan.

(catatan: teks berwarna biru kusarikan dari sini)

****

 

Saat aku berkunjung ke Tana Toraja beberapa waktu yang lalu, aku dan suamiku menyempatkan diri melihat-lihat bengkel pembuatan Tau Tau yang banyak bertebaran di sekitar situs pemakaman Lemo.

Di sini aku cerewet sekali, saking ingin tahuku yang terlalu banyak. Dari pengrajin Tau Tau inilah, aku jadi mengetahui beberapa hal yang kemudian ingin kubagikan pula.

Dahulu, Tau Tau hanya berupa “boneka” kayu dan asal diberi mata, hidung dan mulut, kemudian diberi pakaian. Tetapi sekarang, sudah banyak pengrajin Tau Tau yang ahli membuat tiruan almarhum ini hampir sama persis dengan orang yang sudah meninggal tersebut.

 

Tau tau kuno, teknologi zaman dulu, "asal" bermata, berhidung dan punya mulut

 

Menurut pengrajin Tau Tau ini, biaya pembuatan Tau Tau sangatlah besar. Proses pembuatan sendiri memakan waktu hingga berbulan-bulan.

Khusus untuk pembuatan Tau Tau dari kayu nangka, ada beberapa tahap yang harus dilakukan.

Dimulai dengan pemilihan pohon nangka yang sesuai untuk pembuatan Tau Tau ini. Hanya kayu pohon nangka yang digunakan untuk bangsawan dan masyarakat dengan status sosial tinggi lainnya. Pohon nangka yang terpilih, haruslah berasal dari hutan, yang dipilih oleh orang khusus, didoakan disertai dengan penyembelihan seekor babi dewasa. Setelah pohon ini ditebang, barulah batang nangka ini dibawa ke rumah si pengrajin Tau Tau yang telah ditentukan oleh keluarga.

Untuk jasanya membuat satu Tau Tau, si pengrajin mendapat imbalan satu ekor kerbau dewasa. Bisa juga ditambah barang-barang lain tergantung dari keluarga pemesan.

Sebelum mulai membuat Tau Tau, satu ekor babi dewasa dipotong lagi. Proses pembuatan dimulai dari kepala, leher, badan dan tangan. Nah, pada saat membuat alat kelamin sang Tau Tau, harus didahului lagi dengan penyembelihan seekor lagi babi dewasa. Aku terheran-heran, lha wong Tau Tau itu nantinya hanya akan berbaju, kenapa pula buah dada dan pedalamannya harus diukir? Kan tak terlihat dari luar?

Sang pengrajin menjawab, sudah adat dari ratusan tahun yang lalu, warisan leluhur pendahulu bahwa alat kelamin harus dibuat sesuai dengan gender sang almarhum.. ow..oww…

 

untuk membuat"nya" diperlukan pemotongan satu babi dewasa.. hfff...

 

Jadi minimal tiga ekor babi dipotong untuk membuat satu Tau Tau. Harga seekor babi kira-kira 2-3 juta (sekarang).

Rambut Tau Tau dibuat dari serat daun nanas. Tapi maaf nih, aku nggak tau apakah untuk proses pembuatan rambut Tau Tau harus dilakukan ritual khusus atau tidak. Lupa tanya.  *maklum reporter gadungan…🙂 *

Pengrajin yang kami jumpai ini, juga menjahit sendiri baju untuk Tau Tau yang dikerjakannya.

****

Nah, berbeda dengan liang kubur batu yang bisa dipesan sebelum seseorang meninggal,  Tau Tau ini tidak bisa dipesan sebelum seseorang meninggal. Jadi semasa hidupnya, bisa dikatakan “tabu” memesan Tau Tau untuk dirinya sendiri atau mereka yang masih hidup. Mungkin dianggap memesan/ mendahului kematian diri sendiri atau orang lain.

Untuk membuat Tau Tau, paling tidak keluarga yang berduka harus mampu mengadakan pesta Rambu Solo’  dengan memotong sedikitnya 24 ekor kerbau.

Setelah seseorang meninggal dan hendak dipestakan Rambu Solo’ barulah keluarga berunding kepada pengrajin mana dan siapa sang alamarhum akan diabadikan dalam Tau Tau. Wuih.. agak ribet ya…

Ada seorang wisatawan asing yang bertanya, kenapa ekspresi Tau Tau itu selalu demikian “sedih” dengan dahi berkerut merut? Bukankah seharusnya berbahagia karena sudah tak berurusan lagi dengan dunia? dipestakan pula?

Hmmm… pertanyaan yang cerdas menurutku… Menurut si pengrajin, hanya orang bule-lah yang menanyakan hal tersebut. Wisatawan lokal tak pernah menanyakannya.  Nah loh….🙂

Begini jawab si pengrajin itu. Orang Toraja bagaimanapun juga, mau tidak mau, tetap memikirkan bagaimana kelak kalau ia meninggal. Tentu biayanya sangat besar. Belum lagi semasa hidupnya mereka juga pasti ikut menanggung biaya pesta kematian nenek atau orangtuanya (baca:hutang), bagaimana cara mengembalikan kerbau dan babi yang dipersembahkan kepada keluarga mereka dalam pesta Rambu Solok. Bagaimanapun, kerbau dan babi itu adalah hutang yang harus dikembalikan, cepat atau lambat.

Demikian keras mereka berpikir, hingga dahi menjadi berkerut merut, dan tercetak pula dalam Tau Tau..

berkerut-kerut

 

Tau Tau (modern) nenek laki-laki membawa penumbuk sirih. Di sini tidak ada kakek, hanya ada nenek...

 

 

Tau Tau (modern) nenek perempuan memegang caping, mengenakan aksesori manik-manik khas Toraja dan berselempang tas berisi sirih

 

Kedua Tau Tau dalam foto diatas hanya merupakan pajangan dan memang dijual. Tau Tau asli dengan pemotongan babi tidak boleh dipajang/dipamerkan di muka umum, dan pembuatannya dilakukan di rumah si pengrajin, bukan di bengkel /artshop seperti ini.

Tau Tau ini umumnya dibuat setinggi 1.5m. Sedangkan Tau Tau untuk souvenir lebih kecil lagi ukurannya. Anda bisa membeli souvenir dan miniatur Tau Tau di bengkel ini.

Nah, aku memang minta ijin pada pengrajin ini untuk memotretnya, tapi aku belum ijin untuk mengedarkannya di blog, jadi untuk menghormati privasinya, sengaja foto wajah aku buat blur…

 

pengrajin Tau Tau dan karyanya. Demi privasi yang bersangkutan, wajahnya sengaja di blur..

 

Bagaimana, tertarik membeli sovenir Tau Tau suatu saat kelak?

Jangan khawatir, untuk sovenir tidak disertai dengan pemotongan babi kok… 🙂

Plus, jangan kuatir Tau Tau yang dijual ini diambil atau dicuri dari makam. Tau Tau curian dari makam konon berharga jauh lebih mahal, diperjual belikan dengan sembunyi-sembunyi dan anehnya diburu orang juga, *hedeh hedeh….kok ada ya…

Nah, menurut cerita, Tau Tau curian dari makam akan minta dikembalikan ke tempat dia diletakkan semula di tebing dan goa sana…. terrreennngggg….!!!

****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Pelosok Negeri and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Tau Tau

  1. Ikkyu_san says:

    BTW mau tanya yg nakal dikit…
    pengukiran itu yang seharga satu babi dewasa itu musti mirip bener ngga? hahahaha

    tau tau untuk souvenir? hmmm mikir dulu ahhh

    EM

  2. riris e says:

    sama dengan mbak EM, untuk suvenir..mikir2 dulu aaah !!

  3. DV says:

    Wah kayaknya aku cocok tinggal di Toraja nih. Dikit-dikit babi.. yummy!

  4. nh18 says:

    Lagi …
    Tulisan informatif khas Nana …

    Dan lagi …
    Ini pengetahuan baru bagi saya

    Thanks Nana

    Salam saya

  5. This is the wonderful thing i spend long time to find

    it

  6. arman says:

    ah serem amat na! hehe

  7. edratna says:

    Nana…
    Makasih ceritamu tentang Toraja…

    Untuk buat Tau-tau mesti bayar sekitar harga satu ekor kerbau?
    Terus kalau keluarga tidak mampu bagaimana ya…
    Karena biaya pemakaman adat Toraja mahal sekali…
    Kalu di Bali, nanti ada ngaben rame-rame untuk yang punya biaya banyak, jadi sementara menunggu yang lain dikubur dulu di pemakaman (cerita sopir kantor).

    Untuk souvenir? Waduhh …enggak deh..
    Tapi pas kesana, saya beli souvenir sulaman khas Toraja…ada yang dipasang di kamar si bungsu…..mbak Tutinonka yang sempat tidur di kamar Narp. Beliau komentar…sayang lupa memotret hiasan di kamar Narp…saya jadi ingat…hiasan nya hanya sulaman Toraja ini dan hasil sulaman kruistik (ehh tulisannya bagaimana?), si mbak yang dihadiahkan pada momongannya saat berulangtahun di SMP dan SMA.

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih kembali ya Bu Enny…

      ya, memang untuk jasa pembuatan satu Tau Tau si pengrajin mendapat imbalan seekor kerbau dewasa. Dari dulu begitulah kebiasaannya. Mungkin lebih susah menetukan harga dalam rupiah ya Bu… kapan biaya jasanya naik, dan berapa persen kenaikannya. Mungkin saja orang dulu males juga itung-itungan, jadi dibayar pakai kerbau yang meski naik turun harganya tetap bisa dijadikan harta.

      OOT, ternak termasuk harta bergerak ya Bu? 🙂

      Saya malah belum nemu sulaman yang “klik” dengan saya.
      Kalau ada kesempatan lagi ke sana, semoga saya bisa beli sulaman/ tenunan khas Toraja.

  8. tulisan yang sangat lengkap sekali ,Mbak Nana.
    dan, sungguh, aku baru tau semuanya disini , di tulisan ini.
    Terimakasih Mbak Nana, telah menambah wawasan baru bagiku🙂
    salam

  9. Clara Croft says:

    Lucu deh kayanya beli suvenir Tau-tau.. saya kmaren pas ke Makasar cuma beli miniatur Kapal Pinisi..

    Waw.. ternyata harus diukir juga bagian yang itu.. ck ck.. baru tau.. tapi kalo liat dari Tau-tau hasil kerajianan itu.. memang mirip seperti manusia ya Mba Na..

    Yang saya penasaran.. kalo teman saya yang sekarang akan menikahi seorang gadis toraja, apakah kelak dia akan menghadapi upacara itu juga ya? Atau si cewe itu sudah dianggap bukan orang Toraja lagi? Hmm..

    • nanaharmanto says:

      Yup… kalau ke Toraja, beli aja miniaturnya, 50cm tingginya atau yang lebih kecil lagi. Kalau beli yang ukuran 1,5m repot bawanya hehehe…

      Iya loh… pedalamannya harus diukir juga, aku sampai bengong hehe..🙂

      Tentang temanmu itu, wah, aku nggak bisa jawab tuh..

  10. julicavero says:

    memang budaya toraja unik juga ya mba, temen saya jg banyak orang toraja dan katanya sih emang gt. dikit2 babi…atau dikit2 kerbau….harganya dan byknya ga tanggung2 pula tuh…sampe menguras tabungan…cek..cek..cek…
    btw ngukir”itunya” bisaan ya? tp apakah segede/sekecil itu ya aslinya?wkwkwkw…pizz ah

    • nanaharmanto says:

      Iya bener… untuk pesta perkawinan dan kematian di Toraja , memang banyak babi dan kerbau yang dipotong…

      Tentang ukuran “itu” hanya Tuhan dan pengrajinnya yang tau hehe… 🙂

  11. tutinonka says:

    Itu … patung tau-tau yang kelihatan “itu”nya, kok lucu banget … (heh, lucu?😮 )
    Aku kemarin beli lho, boneka tau-tau kecil, setinggi 20 cm-an. Habis, khas Toraja banget. Oh ya, lukisan ukir Toraja juga khas banget. Harga untuk turis asing 1,2 juta, dikasih ke aku 500 ribu (terimakasih Bu penjual …🙂 ).

    Oh iya, perasaan, nggak ada tau-tau yang ganteng/cantik ya? Selalu wajahnya serem, murung, dan kerut-merut …😦

    • nanaharmanto says:

      […] Itu … patung tau-tau yang kelihatan “itu”nya, kok lucu banget … (heh, lucu?😮 )
      *senyum-senyum….

      500 ribu itu pake nawar nggak Bu? 🙂
      Eh iya ya Bu Tuti… saya baru sadar juga… saya kok nggak liat Tau Tau orang muda yang ganteng/cantik. Saya pernah liat Tau Tau anak kecil, tapi jauh tinggi di atas dan sudah berumur puluhan tahun kayaknya..

  12. septarius says:


    hu..hu..hu..
    kok ekspresi patungnya selalu murung ya..
    ada yang senyum gak mbak..?
    ..
    kalo ada pesen atu.. hihi..
    ..
    btw, tengkyu infonya Mbak…
    banyak pengetahuan baru yang saya dapet..😉
    ..

  13. adelays says:

    Mbak Nana,
    Sekarang saya baru tau kalau untuk replika orang di Toraja itu namanya Tau-tau.

    Hmm.. tadinya saya pikir mbak Nana mau membahas tentang kata “tau tau” tetapi ternyata Tau-tau yang asalnya dari Toraja.

    Update pengetahuan yang bermanfaat… Lucu juga yach.. bisa dibuat mirip dengan aslinya….

  14. anna says:

    baru tau, kalo ternyata tau-tau pun juga mengalami perubahan menjadi lebih modern.
    kirain itu udah harga mati dan nggak boleh berubah..
    tau-tau modern malah seperti boneka replika ya mbak.. boleh nggak tuh kalo dibikin semirip mungkin dengan yang meninggal? hehe.. pasti bagus tu.. tapi ‘ngeri’ juga…

  15. baru tau dech klo namanya tau-tau😀 hehehe

  16. ngakak … ternyata “itu” juga harus dibikin ya …haha
    gokil … tapi tetep sangat bermakna …
    kemajuan jaman ternyata telah memodernkan pembuatan tau tau ya …

    Semoga persahabatan kita tidak lekang oleh waktu dan tidak terbatas oleh ruang

  17. Pingback: Tips for Toraja Trip « the broneo

  18. BroNeo says:

    kalau pembuatan tau tau yg asli tuh d rumah pembuatnya atau d rumah yag di”tau-tau”kan ya?

  19. Pingback: Keindahan Tana Toraja « the broneo

  20. toraja says:

    deskripsinya lengkap sekali tentang toraja dan tau-tau.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s