Lilin

Selama dua tahun tinggal di kota kecil ini, setiap Minggu kami pergi ke gereja untuk mengikuti Misa Kudus.. oh, sebentar, tampaknya harus kuralat… aku tak bisa membohongi diri sendiri. Beberapa kali kami melewatkan misa Mingguan ini karena berbagai sebab. Karena sakit, sedang pergi keluar kota atau simply hanya karena malas atau terlambat bangun. Kemalasan ini pun dipicu oleh berbagai hal yang kalau kurinci dengan detil  di sini, hanya akan membuatku lebih malu, malu pada diri sendiri dan pada Tuhanku.

Di saat-saat aku ke gereja itu, seringkali aku menyempatkan diri untuk berdoa secara pribadi setelah misa selesai. Ada sebuah tempat khusus bagi mereka yang ingin berdoa secara pribadi. Di situ disediakan tempat untuk menyalakan lilin di dekat patung orang kudus.

Ah ya, banyak saudara-saudariku yang menganggap bahwa kami menyembah patung. Sebenarnya tidak. Patung itu digunakan untuk lebih memusatkan perhatian agar doa kami lebih terfokus (kontemplatif).

Coba bayangkan kalau kita berdoa tapi pikiran kita ke mana-mana, malah membayangkan yang tidak-tidak, tentunya kita jadi nggak fokus kan?

Tapi sudahlah, aku tak ingin memperdebatkan hal ini. Toh tidak ada gunanya berdebat dengan mereka yang tidak memahami sepenuhnya. Biarlah orang menganggap kami penyembah patung, tak perlu diambil pusing. Imanku itu…. sepenuhnya urusanku dengan Tuhanku dan kelak akan kupertanggungjawabkan hanya kepada Tuhanku.

 ****

Sayangnya, seringkali pula aku kecewa karena tak menemukan sebatang pun lilin yang baru. Tak jarang, umat yang lain pun terpaksa gigit jari  karena tak ada lilin yang tersedia di sana. Di keranjang kecil di bawah tempat pembakaran lilin, tertulis: lilin @ Rp 1000,-

hmmm…

Kupikir, setiap umat yang menghendaki menyalakan lilin akan membayar uang serelanya, entah seribu atau dua ribu rupiah bahkan lebih. Tapi karena tidak ada lilin yang tersedia, maka kotak iuran sularela itu pun akan kosong… tak ada lilin, maka tak ada uang… karena tak ada uang, lilin pun tak terbeli…  begitulah akan terus  terjadi kaitan sebab dan akibat ini. Aku tak begitu paham, apakah di gereja ini ada yang memperhatikan masalah ini secara serius atau tidak.

Memang jika dibandingkan di gereja-gereja di Jawa yang pernah kukunjungi, jumlah lilin yang menyala di tempat khusus di gerejaku ini sangat sedikit, artinya  hanya 4-5 orang yang meluangkan waktu untuk berdoa secara pribadi begitu. Jarang sekali kulihat lebih dari 10 batang lilin menyala. Betapa lain dengan gereja-gereja yang pernah kukunjungi.. puluhan lilin menyala meriah, kadang orang bahkan harus antri dan rela berdesakan supaya bisa menyalakan berdoa secara khusus di sekitar tempat itu.

Beberapa kali memang sempat terucap olehku pada suamiku, “Kok di sini jarang sekali ya umat berdoa khusus begini, nggak ada persediaan lilin lagi…”.

Tapi lantas aku teringat sebuah ungkapan bijak.

Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada terus menggerutu dan merutuk  pada kegelapan… 

lilin... perwakilan hati yang terus menyala...

Note: foto koleksi pribadi

Lalu, kami mulai membawa lilin sendiri dari rumah. Kami merasa lebih baik begitu, berbuat sesuatu daripada hanya mengeluh.

Oh..oh.. hampir terlupa… seringkali tak ada lilin, bahkan korek api pun tak ada… jadi kami harus menyalakan lilin dengan mengambil api dari lilin altar yang masih menyala. Kemudian, aku mulai membawa korek api sendiri di dalam tasku..🙂

Selalu, kami membawa sebungkus lilin berisi 8 batang lilin. 2 batang lilin kunyalakan sebagai lambang diri kami, -aku dan suami, lalu sisanya, kutinggalkan di dalam keranjang kecil tempat lilin itu. Beberapa kali aku mendapati umat yang lain pun ikut mengambil lilin yang kubawa, dan mereka memasukkan uang sumbangan lilin ke kotak.

Well, syukurlah lilin kami bisa digunakan orang lain. Jadi begitulah, setiap kali misa di gereja itu, kami selalu membawa sebungkus lilin, meninggalkan sisanya agar bisa dipakai mereka yang membutuhkan. Beberapa kali aku mendapati bungkus-bungkus kosong dari lilin yang kubawa minggu-minggu sebelumnya masih teronggok di keranjang tempat lilin. Bungkus-bungkus kosong itu kuambil dan kubuang ke tempat sampah. Aku yang menaruhnya di situ dan akulah yang harus membuangnya.

 ****

Kami berniat akan terus membawa setidaknya sebungkus lilin setiap kali kami misa di gereja ini. Setidaknya 6 orang umat-entah-siapa-mereka, akan terbantu. Entah mereka meyumbang atau tidak, kurasa itu bukan urusanku. Semoga saja uang sumbangan lilin yang terkumpul akan cukup bagi pihak gereja untuk membeli lilin.

Tidak menutup kemungkinan kami akan membawa lebih dari sebungkus lilin untuk minggu-minggu ke depan…  Tidak lebih dari empat ribu rupiah saja setiap bungkusnya, bagi kami itu lebih berarti daripada kami hanya menyumbang seribu rupiah untuk setiap lilin. (Kadang batal karena lilin tidak tersedia🙂   )

Semoga saja hal ini bisa berguna untuk lebih banyak umat yang lain.. Syukur-syukur ada yang tergerak untuk mengikuti hal sederhana yang kami lakukan..

persediaan lilin di rumah... tampaknya harus belanja lagi nih..,

Note: foto koleksi pribadi

Aku suka berlama-lama memandang lilin-lilin itu, api kecilnya kadang meliuk-liuk terkena angin. Meleleh perlahan, ia merelakan tubuhnya rusak dan habis agar apinya terus menyala. Mengabdi dalam kesenyapan, ia tak pernah meratapi wujudnya yang tak lagi indah ketika padam apinya dan usai tugasnya.

Indah sekali rasanya memandang lilin yang menyala, sebagai perwakilan dari setiap pribadi yang berdoa.. semakin banyak lilin yang menyala, semakin banyak pula orang berdoa dan didoakan.. ah ya, semoga semua orang menemukan kebahagiaan….

...cahaya dalam kegelapan...

Note: foto koleksi pribadi

Lilin-lilin Kecil

(Chrisye)

Oh…Manakala mentari tua

lelah berpijar
oh… Manakala bulan nan genit
enggan tersenyum

Berkerut-kerut tiada berseri
Tersendat-sendat melayang dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti

Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia

 ****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting, Dari Hati and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Lilin

  1. nh18 says:

    Ada Tiga Hal Na …

    1. Ungkapan 1…
    Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada terus menggerutu dan merutuk pada kegelapan…
    Saya rasa ini berlaku Universal …
    dan memang tidak ada gunanya menggerutu sepanjang masa … itu hanya akan menyuburkan energi negatif saja

    2. Ungkapan 2 …
    Ada juga perumpamaan lilin yang juga favorit …
    Jadilah Lilin … dia rela meleleh … habis … demi menerangi sekitarnya
    (jaman SMP ini ungkapan favorit)

    3. Kontemplatif …
    Dan saya rasa … ini juga berlaku Universal …
    Di dalam agama kami pun kami diajarkan untuk selalu Introspeksi …
    Sudahkah kita bersyukur …
    Sudahkah kita berbagi
    Sudahkah kita beramal sholeh …

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      1. Iya Om… orang yang menggerutu terus akan kondisinya akan semakin merasa kelelahan dan kurang bahagia dalam menikmati hidupnya. Sekarang, dalam keadaan apapun, saya mencoba belajar untuk tidak mengeluh pada kondisi yang ada… susah banget Om, apalagi kalau Om merasakan hidup di sini.. 😀 *looohhh malah curcol*

      2. Saya jadi makin mendalami perumpaan ini, Om… *tsahhh…
      Ada banyak orang yang berkorban seperti lilin ini… didekati karena dia memberikan cahaya (keuntungan) tapi begitu cahayanya habiss, pengorbanannya tak lagi diingat… kasihan sekali orang-orang seperti ini..

      3. “Sudahkah kita bersyukur”
      Terima kasih ya Om mengingatkan lagi bahwa kita harus senantiasa bersyukur. saya sering lupa bersyukur. Yang paling simpel, doa pagi hari saat bangun tidur. lupa berdoa atas penjagaan-Nya sepanjang malam, saya bisa istirahat. Bahwa kita masih bisa hidup hari ini adalah karunia besar..

      Salam hangat selalu, Om NH…

  2. arman says:

    wahhh salut deh buat nana!🙂
    tapi sebenernya pengurus gerejanya gimana ya, kok sampe lilinnya gak ada persediaan. selama ini sih gua gak pernah sih ketemu gereja yang keabisan stok lilin. biasanya selalu ada. heheeh

    • nanaharmanto says:

      Itulah yang bikin kami gak abis pikir… mending sekali dua kali keabisan lilin ya… lha ini hampir tiap minggu gak ada lilin lho… pastornya udah terlalu banyak urusan kayaknya untuk memikirkan hal ini.. dia mengurus setidaknya 3 gereja di wilayah kami, sehingga kadang-kadang kami hanya dapat jatah “ibadat sabda” + komuni aja di hari Minggu…
      Berbahagialah mereka yang memiliki banyak pastor… 🙂

  3. septarius says:

    ..
    duh lagunya Chrisye bikin merinding syahdu Mbak..🙂
    ..
    weleh persediaan lilin 4 pak masih kurang Mbak..?
    beli lilin yang gede aja biar awet..hehe..
    ..

  4. DV says:

    Waktu dulu di gereja Kotabaru aku juga cukup sering berdoa pribadi seusai misa di depan patung menggunakan lilin… Namun di sana kan meski diminta sumbangan tapi serelanya, jadi aku kadang ngga kasi sumbangan hahaha…

    Nah, di sini, aku sempat kaget waktu pertama kali ke gereja, banyak orang menyalakan ‘lilin’ yang diletakkan di depan patung dan ternyata itu adalah lilin boongan alias lampu yang dibekap plastik putih… tapi nyala lampunya mirip sekali dengan lilin.

    Barangkali pertimbangannya adalah kotor dan bahaya… orang sini terlalu takut kalau2 ada kebakaran hehehe

    • nanaharmanto says:

      Nggak ngasih sumbangan? semoga Gusti masih mau mendengarkan doamu hahahaha….

      Ide lilin boongan itu bagus juga ya… jadi meminimalkan resiko kebakaran. Kalau di gereja kita kan masih ada koster tuh yang tugasnya matiin lilin setelah selesai misa dan gereja sudah sepi..

  5. riris e says:

    Kalian yang meletakkan lilin kalian juga yang harus membuang bungkusnya😀
    Upahmu besara di bumi dan di Surga.

  6. krismariana says:

    Nana, postinganmu menyejukkan hati. aku di Jakarta kok belakangan malah nggak berdoa di depan patung Bunda Maria ya? ah, padahal dulu kalau di Jogja aku beberapa kali berdoa di depan patung Bunda Maria (Pieta). rasanya “anyes” kalau berdoa di sana… btw, aku kangen ke Sendang Sono.

    • nanaharmanto says:

      Makasih ya Nik…
      Aku kalau berdoa di depan patung Maria di gereja St. Theresia Jkt selalu mewek lho… entah, rasanya gimanaaaaa gitu… patung ini diletakkna dalam sebuah gua buatan di samping luar gereja, banyak orang berdoa di situ dan rata-rata benar khusyuk dan beberapa mewek as I do… 🙂

      Aku udah lamaaa banget nggak ke Sendang Sono.. aku kepengen deh ke sana lagi kalau mudik.. kalau di sana lagi sepi gak banyak pengunjung, berdoa rasanya lebih afdol deh… 🙂

  7. Ikkyu_san says:

    Yang aku ingat dulu di gerejaku di jkt, kosternya membuat lilin dari lelehan lilin. Jadi recycle deh. Dan selalu ada. Umat paroki kami sampai 13.000 an sih.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Sama Mbak di gereja kami di Muntilan juga gitu, kosternya bikin lilin dari lelehan lilin, jadi lilin ada terus.. berlimpah bahkan…🙂
      Kebetulan rumah koster gereja itu dekat rumahku, jadi aku sering liat proses pembuatan lilin ini… asyik banget ngeliatnya… 🙂

  8. edratna says:

    Nana…
    Tulisanmu sangat dalam artinya…..

    “Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada terus menggerutu dan merutuk pada kegelapan…”

    Betul Nana, ide membawa lilin indah sekali…bukankah kita ikut memberikan penerang dan kebahagiaan pada orang lain?

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih apresiasinya ya Bu Enny…
      Semoga saja ada umat lain yang tergerak untuk mengikuti cara kami… membawa lilin sendiri…
      Saya dapat ungkapan ini bertahun-tahun yang lalu saat membaca sebuah kisah yang sangat menyentuh… saya lupa-lupa ingat kisahnya, tapi ungkapan ini tidak bisa saya lupakan, Bu..🙂

  9. AFDHAL says:

    saya sih berdoa..
    semoga ada jamaat lain yang berpikiran sama dengan mbak nana, agar membawa lilin sendiri dan syukur2 meninggalkan sisanya agar bisa digunakan …Aminnnnn

  10. chocoVanilla says:

    Hwaaaaa….. saya ke gereja cuma kalo Natal dan Paskah😥
    Tapi tiap hari berdoa kok🙂

    Bagus banget ya, Jeng filosofi lilin itu. Rela terbakar dan menjadi jelek demi menerangi dunia owh…….

  11. clara croft says:

    Dulu waktu SD-SMP sering diajak berdoa bersama ke kapel dekat sekolah, dan selalu ada lilin di kapel. Begitu kuliah, sering kembali ke kapel itu, kadang bukan buat apa-apa, hanya untuk menangis dan berdoa di saat2 yang sedih, jujur sangat membantu melewati masa sulit.. di gereja kami ga ada kapel dan lilin Mba Na, karena kami Protestan, tapi urusan kapel dan lilin di altar sudah sangat dekat dengan saya sejak dulu. Kelak kalo punya rumah pun, ingin punya ruang kecil dengan lilin untuk berdoa🙂

  12. foredi bali says:

    Menarik, sangat Menarik Artikel dan Tipsnya. boleh dicoba.

  13. foredi ambon says:

    boleh di coba tipsnya

  14. foredi ambon says:

    amazing tipsnya saya akan coba sekarang juga

  15. Amazing artikel, Infonya bagus banyak mengandung Tips dan Pesan yang bermutu. salam sukses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s