22 November 2011 by nanaharmanto
Cukup lama juga ya blog ini terabaikan…
Ada beberapa hal yang tak bisa ditunda yang membuatku sedikit melupakannya.
Well, posting kali ini, tak perlu rasanya untuk berpanjang lebar. Ada tiga hal yang ingin kusampaikan di sini.
1. Mainan Bocah Contest
Puji Tuhan… tulisanku berjudul Ceremai dan Mainan Masa Kecilku, terpilih sebagai salah satu dari 5 pemenang dalam blog contest yang bertemakan Mainan Bocah yang diselenggarakan oleh UdaVizon, salah satu blogger senior yang kukagumi. Terima kasih ya Uda, sudah menyelenggarakan kontes ini dan membuatku bernostalgia dengan indahnya masa kanak-kanakku.
Continue Reading »
Posted in Uncategorized | Tagged baru, ceremai, Jawa, pemenang, pindahan, Sayonara, Sulawesi | 25 Comments »
30 October 2011 by nanaharmanto
Akhir-akhir ini, seringkali kulihat anak-anak yang sibuk “uplek” bermain dengan komputer, kecanduan nonton TV , PS dan game-game elektronik lainnya. Tak jarang kubaca keluhan teman-teman di facebook tentang anak-anak mereka yang seakan terbius pada permainan dan game di tablet-tablet dan gadget mahal…
Bukan hanya dua-tiga kali kulihat di tempat makan, anak-anak yang tenggelam dalam mainan eletroniknya, mengabaikan makanan di depannya, dan tak peduli pada orang-orang di sekitarnya. Helow? Kasian sekali anak-anak itu…
Continue Reading »
Posted in Golden Moments | Tagged anak-anak, badung, betengan, bluluk, ceremai, gobak sodor, jamuran, jarik, mainan, Mainan Bocah Contest, permainan, sawah, tawa | 41 Comments »
22 October 2011 by nanaharmanto
Di tulisan kali ini, aku mencoba berbagi beberapa hal yang menurutku unik dari Tana Toraja.
Catatan: posting ini memuat foto-foto berukuran besar, pastikan koneksi internet Anda mendukung.
1. lada katokkon
Dalam bahasa Toraja, lada berarti cabe.
Cabe khas Toraja ini bentuknya seperti paprika, hanya dalam ukuran mini. Lada katokkon ini mempunyai aroma wangi yang khas dan menggugah selera.
Berwarna hijau saat mentah dan menjadi merah segar saat matangnya, cabe ini menjadi primadona untuk masakan Toraja. Rasanya?? Hoooosshhhh…. pedeeees luar biasa!
Mungkin satu lada katokkon sebanding dengan belasan cabe rawit. Huuuff…. pedesnya terasa hingga ke kuping! Suamiku menyebutnya lombok “biadab” hehehehe…
Sebagai sambal mentah, cabe ini cukup diulek bersama bawang putih dan garam. Sederhana, tapi sungguh sedap, apalagi bagi mereka, penyuka makanan pedas…
Continue Reading »
Posted in Dari Pelosok Negeri | Tagged asma, babi, belang, daun miana, kerbau, lada katokkon, maag, mapasilaga tedong, pa'piong, padi, sambal, sarung hitam, Tana Toraja, tedong bonga | 19 Comments »
1 October 2011 by nanaharmanto
Salah satu situs purbakala yang menjadi obyek wisata di Toraja adalah Simbuang Batu -atau Simbuan Datu dalam bahasa setempat- yang berarti batu tarik (batu yang ditarik).
Batu-batu megalith ini berbentuk menhir dengan besar dan tinggi bervariasi. Sebenarnya ada banyak tempat di Toraja yang memiliki sekumpulan batu menhir ini, yang dipercaya telah mulai didirikan sejak ratusan tahun silam.
Berasal dari kata mega (besar) dan lithos (batu) , megalith secara harafiah berarti batu besar. Umumnya, batu-batu megalitik ini berkaitan erat dengan pemujaan dan penghormatan pada leluhur.
Continue Reading »
Posted in Dari Pelosok Negeri | Tagged babi, balakkayan, batu tarik, Bori, kalimbuang, Karasik, kerbau, langi, megalith, menhir, Toraja, upacara | 20 Comments »
7 September 2011 by nanaharmanto
Tongkonan, adalah rumah adat penduduk Toraja, Sulawesi Selatan. Bagiku pribadi melihat tongkonan yang megah menjulang di tengan hamparan alam yang indah di Toraja, selalu menimbulkan perasaan kagum. Kagum pada aneka budaya masyarakat Indonesia, juga kagum pada rancangan dan (para) pembuatnya.
Liburan Lebaran yang baru lalu, kami mengunjungi sebuah tongkonan yang sangat unik, karena tongkonan ini mempunyai ciri khas yang tak dimiliki tongkonan lain di Toraja.Ya, tongkonan ini terkenal karena atapnya yang terbuat dari batu.
Continue Reading »
Posted in Dari Pelosok Negeri | Tagged Desa Banga, kerbau, mengetuk, Papa' Batu, papan batu, permisi, Rembon, rotan, tongkonan, Toraja | 40 Comments »
26 August 2011 by nanaharmanto
Dulu, saat aku masih SD, orangtua dan nenekku selalu mendorongku untuk mencari sahabat di sekolah dan di sekitar rumah. Termasuk juga sahabat pena yang alamat mereka bisa kudapatkan di majalah Bobo langganan kami. Caranya, ya dengan mulai mengirimi mereka surat.
3-4kali aku mengirim surat, ada yang tak dibalas, ada juga yang dibalas.
Suatu hari, aku menerima surat balasan. Aku senang sekali.
Tapi aku harus kecewa, sebab tak sedikitpun ia membalas suratku. Tak ada sepotong pun kata yang ditulisnya kecuali pada nama dan alamatku di amplop. Isinya hanya sebuah kertas fotokopian yang hampir tak terbaca.
Aku baru tau istilahnya saat itu. Surat berantai. Intinya, aku harus memfotokopi/mengetik ulang surat itu minimal 20 lembar dan mengirimkannya sebanyak mungkin pada sahabat atau teman koresponden..
Aku lupa isi surat berantai itu. Aku kira isi surat itu beneran lho… aku harus mengirimkan surat itu kurang dari 4 hari. Kalau tidak, aku bisa sakit/celaka. Bingung dan panik doang, namanya anak kecil…
Tapi ternyata papaku bilang dengan santai, abaikan saja surat itu, bakar saja nggak apa-apa. Nenekku pun menyarankan hal yang sama: buang saja.
Continue Reading »
Posted in Consideration | Tagged fitnah, gosip, HP, ibu, motivasi, pertemanan, SMS, surat berantai, tahkyul, text, weden-weden | 21 Comments »
11 August 2011 by nanaharmanto
Suatu sore, kira-kira dua tahun yang lalu…aku dan suamiku memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati suasana sore di kota kecil ini, kota yang kutinggali sampai tulisan ini kubuat..
Sesampainya di pusat kota, aku melihat seorang pemuda yang tingginya mungkin hanya selisih beberapa senti dari pinggangku. Lalu kusadari, ternyata salah satu kakinya tidak sempurna. Kaki kanannya begitu kecilnya. Kaki kiri pemuda itu harus ditekuk untuk mengimbangi supaya kaki kanannya bisa ikut menapak tanah…
Saat berjalan, kaki kirinya yang normal dan sehat berfungsi untuk bergerak, sedangkan kaki kanannya setengah diseret. Sekilas kita akan melihatnya seperti berjalan sambil berlutut (jengkeng, Bahasa Jawa).
Continue Reading »
Posted in Consideration | Tagged alas kaki, gereja, ingkling, jengkeng, kaki, meloncat, tukang parkir | 18 Comments »
19 July 2011 by nanaharmanto
Tulisan kali ini masih berhubungan dengan tulisan sebelumnya di sini.
Ini tentang perilaku berkendara di sebuah kota dengan sepuluh taksi.
Seringkali kami lihat, mobil-mobil mewah dan mentereng dengan semua jendela terbuka. Akan terlihat jelas siapa si pengemudi dan para penumpangnya lengkap dengan segala aksesorisnya. Sayang banget mobilnya ya. Berfasilitas AC begitu, bisa cepet rusak kalau semua jendela dibuka
Sudah begitu, mereka memarkir mobilnya kadang membuat orang lain mengelus dada. Bayangkan di jalan sempit, bisa-bisanya satu orang memarkir di sisi kiri, lalu orang lain lagi memarkir mobil tepat di sisi sebelah kanan. Catet ya, itu jalan sempit dua arah, bisa diduga kan sempitnya dan macetnya jalan karena cara parkir yang tidak bijaksana begitu? Continue Reading »
Posted in Curhat tak penting | Tagged lampu merah, parkir, potong jalan, taksi, TV kabel, TV lokal | 19 Comments »
6 July 2011 by nanaharmanto
Ini cerita tentang sebuah kota dengan sepuluh taksi. Kota kecil ini, berkembang karena inilah penghubung ibukota propinsi Sulawesi Selatan, dengan kota-kota lainnya. Kota transit istilah kerennya ya..
Mengapa sepuluh taksi?
Memang baru ada satu perusahaan taksi di kota ini, mungkin baru beroperasi kurang lebih satu tahun, dengan armada sepuluh taksi saja. Itupun, -menurut dua orang sopirnya, para sopir taksi ini masih lebih banyak nganggur-nya, karena tak ada atau jarang ada panggilan dari calon penumpang.
Mungkin memang mobilitas orang-orang di kota ini termasuk rendah. Lha, coba, mau ke mana lagi ber-taksi? Tak ada bioskop di sini, tak ada mall…
Continue Reading »
Posted in Curhat tak penting | Tagged emas kuning, gadget, ikan bakar, kota transit, kuliner, ngejreng, penghargaan, sambal, selera, taksi | 22 Comments »
20 June 2011 by nanaharmanto
Selama dua tahun tinggal di kota kecil ini, setiap Minggu kami pergi ke gereja untuk mengikuti Misa Kudus.. oh, sebentar, tampaknya harus kuralat… aku tak bisa membohongi diri sendiri. Beberapa kali kami melewatkan misa Mingguan ini karena berbagai sebab. Karena sakit, sedang pergi keluar kota atau simply hanya karena malas atau terlambat bangun. Kemalasan ini pun dipicu oleh berbagai hal yang kalau kurinci dengan detil di sini, hanya akan membuatku lebih malu, malu pada diri sendiri dan pada Tuhanku.
Continue Reading »
Posted in Curhat tak penting, Dari Hati | Tagged api, berdoa, Chrisye, gereja, kebahagiaan, kecil, kontemplatif, korek api, lilin, menyala, minggu, misa, patung | 20 Comments »
Older Posts »