(Saat chatting dengan Kris beberapa waktu lalu, dia memberiku link sebuah blog dengan artikel tentang masa kejayaan sandiwara serial di radio era 80-an di sini), lalu aku ingat punya tulisan di fileku tentang nostalgia bersama radio)


Teringat aku pada masa-masa saat aku SD. Beberapa kali aku mampir ke rumah temanku langsung dari sekolah. Karena belum pulang untuk pamit, orang-orang di rumah pasti was-was menungguku pulang.

Aku dinasehati, diwanti-wanti dan diperingatkan. Aku boleh bermain ke rumah teman, asal pulang dulu, ganti baju, makan siang, pamitan,  baru boleh main. Sering aku bandel, toh nggak akan sampai sore gitu loh…

Tapi, sejak keranjingan drama serial di radio, aku tak pernah lagi mampir-mampir kemana-mana. Pulang sekolah, pasti langsung pulang ke rumah.

Jam 1 siang, diputar siaran drama radio Saur Sepuh dengan tokohnya Brahma Kumbara, Mantili, Laksmini, dan lain-lain.

Drama radio itu benar-benar telah membiusku. Meracuni. Membuatku ketagihan. Selalu sedikit kecewa saat durasi 30 menit itu berakhir dengan narasi yang membuat penasaran.

“Sanggupkah Brahma menaklukkan bla..bla..bla..? lalu ajakan narator untuk mendengarkan kembali kelanjutannya di radio “kesayangan Anda” esok hari pada jam yang sama.

Aku gemas penasaran. Benar-benar teracuni!

(more…)

Sekitar 3 minggu lalu, tetanggaku mengadakan hajatan Haji, yaitu sebuah syukuran untuk mohon doa restu, meminta maaf dan sekaligus berpamitan dengan kerabat, sahabat dan tetangga, karena mereka, -suami istri-, hendak menunaikan ibadah Haji ke tanah suci.

Kerabat mereka sibuk memasak menyiapkan hidangan terbaik untuk para tamu. Nah, karena tak ada lagi ruang yang lebih luas di rumah mereka, ibu calon haji itu meminta ijin pada kami unutk memakai tempat di belakang rumah kontrakan kami sebagai tempat untuk rewang, menyiapkan bahan makanan dan meletakkan alat-alat makan.

Sebenarnya, dulu bagian belakang rumah ini hanya berupa sepetak tanah kosong berumput subur dan bersemak rapat. Lalu di sudut, ada tumpukan batu-batu. Lalu aku dan suami bernegosiasi dengan pemilik rumah untuk memperbaiki lahan ini, agar dibuat semacam garasi terbuka. Kan lumayan tuh, bisa digunakan untuk melindungi kendaraan dari panas dan hujan.

Keinginan untuk memperbaiki lahan ini juga semakin kuat karena aku takut ada ular atau binatang yang bersembunyi di antara  semak itu, yang tiba-tiba nylonong masuk dapur..beberapa kali aku mendengar suara-suara mencurigakan di antara tumpukan bongkahan batu-batu itu…hiiii..

OK, kami mengijinkan mereka memakai tempat kami. Nggak mungkin juga aku tak melibatkan diri. Jadi aku ikut membantu rewang. Sekedar mengelap piring atau menyiapkan bahan masakan.

Garasi terbuka di belakang rumah kami itu akhirnya menjadi base camp para rewangers

(more…)

Banyak kenangan yang tersimpan bersama kolam ikan di belakang rumah kami itu. Yang menyenangkan seperti pernah kutulis di sini, maupun menyedihkan seperti di tulisanku ini..

Aku selalu mengenang saat-saat aku masih kecil, aku dan  kakakku, setiap sore selalu berjongkok di tepi kolam, memberi makan ikan-ikan dengan dedak …Papa selalu menemani dan mengawasi kami dengan sabar. Papa juga setia meladeni celoteh kami.

Aku suka sekali saat-saat itu.

Setiap sore, menjelang temaram, dua ekor capung putih selalu terbang berputar-putar di atas permukaan kolam. Mereka berkejaran riang. Sesekali menyentuh air tanpa suara. Tapi sayangnya, saat capung-capung cantik itu datang, artinya, sebentar lagi saat kami harus masuk rumah, dan berakhirlah acara memberi makan ikan sore itu.

Capung itu tak pernah terlambat atau datang terlalu cepat. Setelah beberapa putaran, senja meredup. Dulu, kupikir, capung-capung itu menari memanggil malam, sebagai tanda untuk menggiring kami anak-anak kecil agar masuk rumah…hihi..

(more…)

Gara-gara sering mati listrik, aku jadi tak berani menyimpan bahan makanan yag mudah rusak di kulkas seperti daging, ikan, sayur dan buah-buahan. Dalam sehari bisa 3x padam, total durasi mati bisa sampai 5-15 jam seperti kutulis di sini…tiap hari lagi….wah….semoga aku kuat iman deh…

Nah, terpaksa deh, aku bersih-bersih kulkas. Segera menghabiskan bahan makanan yang mudah rusak, dan untuk sementara nggak menyimpan bahan makanan terlalu banyak.

Dan, aku menemukan buah-buahan yang jarang sekali tersentuh di kotak buah. Apel merah dan jeruk Mandarin.

Beberapa hari lalu,kami makan jeruk itu dan rasanya agak hambar dan tak segar karena bulirnya mulai mengeras..akhirnya malas makan buah itu lagi deh… Nasib para apel juga sama saja, tak tersentuh lagi setelah diicipin dua buah.

Suamiku agak malas makan buah. Jadi sering deh, kupaksa dia makan buah. Maksudku sih, beli jeruk yang gampang dimakan. Atau anggur yang tinggal cuci dan makan..tak perlu repot mengupas seperti mangga atau pepaya.

Tapi karena malas setelah merasakan jeruk yang aneh rasanya,jeruk itu jadi terabaikan hingga berhari-hari.

Lalu aku coba-coba bikin salad buah memanfaatkan bahan yang terabaikan itu.

Gampang aja kok bikinnya.

Bahan:

  1. 1 buah jeruk nipis.
  2. 4 jeruk mandarin, kupas, buang kulit arinya.
  3. 2 buah apel merah.
  4. anggur secukupnya
  5. 4 sendok makan madu
  6. seuprit sedikit garam

Cara membuat:

  1. Siapkan mangkuk kaca.
  2. Peras air jeruk nipis dalam mangkuk.
  3. Apel dikupas dan potong dadu, langsung dicampurkan dalam perasan air jeruk nipis supaya nggak berubah kecoklatan.
  4. Kupas jeruk mandarin, buang kulit arinya.
  5. Anggur dicuci, belah dua.
  6. Campur semua bahan, beri madu, aduk.
  7. Simpan dalam lemari es, setelah dingin siap dinikmati.

Mudah banget kan?

Suamiku yang biasaya agak malas makan buah, jadi lahap makan salad buah itu. Yippiiii…

Kata orang, orang Jawa tulen itu banyak bilang “masih ada untungnya”, dalam keadaan terjepit sekalipun. Salad ini juga tercipta dari keadaan terjepit dan untung itu.

Jadi, mari kita namakan salad ini Salad Buah Lucky van Java..haha, maksa! Ato Salad buah Bejo bin Untung aja?

ayo bikin saladmu...seger... seger...

Ada usul lain? Hmm?

Kemarin, salah seorang tetanggaku mengadakan syukuran akekah atas kelahiran anak pertamanya. Jadi, aku datang ke acara itu. Rupanya, kebersamaan di sini masih sangat kental. Para tetangga yang lain pun ikut sibuk “rewang” –Bahasa Jawa, dari kata “ngrewangi” a.k.a membantu.

Setelah melihat si bayi dan ibunya, lalu makan hidangan yang tersedia, aku pindah ke rumah tetanggaku yang merelakan rumahnya menjadi dapur umum cadangan.

Di rumah ini, ibu-ibu membuat es buah. Di situ juga tersedia beberapa bahan calon masakan cadangan untuk antisipasi jika hidangan kurang. Aku pun bergabung bersama para ibu.

Es buah di masukkan dalam gelas-gelas plastik, lalu diletakkan di dekat meja prasmanan. Si empunya acara, -keduanya bekerja di kantor DP*D-, mengundang rekan-rekan kantor mereka.

Saat para anggota dewan ini datang, makin sibuklah keluarga yang punya hajat, ingin memberikan sambutan yang terbaik. Order pun mengalir ke dapur cadangan.

“Es buah.,es buah…eeeh, cepat dihidangkan, itu anggota dewan sudah datang…”

“…..anggota dewan itu, itu yang pakai anu…eee, mana es buahnya?”

“…heee…semakin banyak ini yang datang, es buahnya kasih keluar, itu untuk rombongan anggota dewan yang duduk di sana itu…”.

Karena semua orang sibuk, tak ada lagi yang bisa membawa es buah itu keluar. Aku berinisiatif membawa sebuah baki keluar, untuk kuletakkan dekat meja prasmanan.

(more…)

Awalnya, kegiatan mengjar di Code itu hanya diisi oleh beberapa mahasisiwi yang tingga di asrama Syantikara. Tapi lama kelamaan beberapa mahasiswa dari berbagai universitas pun ikut bergabung.

Biasa deh, awalnya mak bruuuunng….banyak banget yang tertarik. Tapi lama kelamaan berguguran satu persatu.

Nah, yang berjiwa sosial tinggi biasanya mampu bertahan di Code.

Eh, tapi ada juga lho, yang awet di Code gara-gara sang pujaan hati setia sebagai pengajar sukarela, -motifnya ya jelas lah…

Ada beberapa cowok yang tampaknya “gitu deh’… padaku. Aku nggak mau gegabah langsung menerima salah satu dari cowok-cowok itu.

Saat itu aku nggak mau pacaran dengan cowok sembarangan. Aku sangat hati-hati memilih cowok. Suangat selektif. Aku punya patokan yang tak bisa ditawar lagi. Saklek.

Begitu ada tanda-tanda aneh dari para cowok itu, radarku langsung aktif. Aku langsung mengamati dan menilai perilaku mereka. Wiiiing…

(more…)

Adalah sebuah tempat bernama Code di Yogyakarta. Apa sih istimewanya tempat ini?

Hmmm….banyak sekali yang ingin kuceritakan tentang tempat ini.

Jujur saja nih, tempat ini jauh dari estetika keindahan dan kebersihan. Di kala hujan, sampah mudah menyangkut di sana-sini. Di saat kemarau, hmm…baunya menyengat sekali.. karena air tak mengalir, maka segala sisa sampah rumah tangga teronggok di selokan di bawah rumah penduduk. Jangan coba menghitung lalat yang setia bersarang di sana….

Code, sebenarnya adalah kali yang membelah tepat di tengah kota Yogyakarta. Tak jelas sejak kapan bantaran kalinya ini mulai dihuni. Namun sampai kini, lokasi sepanjang kali ini tampaknya semakin padat saja..

Alkisah, pemukiman padat di bawah jembatan yang identik dengan kaum marginal (baca: pengemis dan pemulung) ini pernah suatu waktu di tahun 1983 hendak digusur oleh pemerintah kota. Saat itu, beberapa orang bereaksi dengan idealisme dan kepentingan masing-masing.

Seorang sederhana berjiwa besar dan bersahaja, berjuang keras untuk membela kaum terpinggirkan ini. Dialah Romo Y.B Mangunwijaya, seorang romo yang juga seorang sastrawan, sekaligus arsitek- yang terus berjuang dengan nyata untuk membela sekaligus memberdayakan masyarakat ini.

Beliau membangun rumah-rumah penduduk yang jauh lebih layak untuk dihuni. Beliau juga membangun sebuah rumah panggung yang oleh masyarakat di situ digunakan untuk berkumpul, saling bertukar informasi dan juga sebagai tempat untuk menerima tamu dari luar. Tak hanya itu, lingkungan pun ditata dengan melibatkan masyarakat. Tempat yang tadinya jauh dari higienis, pelan namun pasti berubah menjadi layak ditinggali dengan nyaman.

Lambat laun, kehidupan masyarakat Code mulai tertata. Pembagian teritori kelurga menjadi jelas, meskipun dalam rumah yang sangat amat sangat sederhana. Yah, setidaknya, rumah itu dapat melindungi mereka dari terik matahari dan air hujan.

(more…)

Saat pindah ke suatu tempat baru, pasti kita disibukkan dengan acara mencari rumah tempat tinggal. Nah, ada empat hal yang paling berkesan untukku saat mencari rumah kontrakan di salah satu kota di Sulawesi Selatan ini, beberapa bulan yang lalu.

Rumah Pertama

Rumah ini terletak di tengah kota. Berdempetan dengan rumah warga lainnya. Kami mendapatkan info tentang rumah ini dari seorang kenalan. Saat kami datangi, rumah ini sangat terbengkalai. Maklum, rumah ini tengah direnovasi. Jujur saja, aku tak melihat keindahan rumah ini. Bahkan membayangkannya dalam keadaan bersih dan rapi layak huni pun sangat sulit.

Sang pemilik rumah menjanjikan dalam 2 minggu rumah ini akan selesai renovasi. Aku menyangsikan rumah itu akan selesai dalam kurun waktu itu. Kami nggak mau dong terlalu gegabah gambling dengan menyerahkan uang muka begitu saja meskipun sang pemilik rumah meyakinkan kami bahwa rumah tersebut akan segera diselesaikan tepat waktu…

Sekian bulan berlalu, sekitar 2 minggu lalu kami lewat depan rumah itu. Aku dan suami tak bisa berkata banyak. Rumah itu masih berantakan. Renovasi tampaknya terhenti. Kami tak tahu sebabnya.

(more…)

Saat aku masih kecil, belum ada listrik di kampung kami. Seluruh kampung gelap gulita di waktu malam. Untuk penerangan, kami menggunakan pelita berbahan bakar minyak tanah, yang lebih sering disebut lampu teplok. Bila sore tiba, papa dan mama menyalakan teplok-teplok itu.

Sebagai penerangan utama di dalam rumah, kami menggunakan sebuah lampu petromax.  Sebenarnya, Petromax adalah mereka dagang resmi, yang lalu latah dipakai secara umum untuk lampu sejenis meskipun jelas-jelas mereknya berbeda. Lampu ini disebut juga lampu tekan atau pompa yang ditemukan oleh Max Graetz pada tahun 1900. Lalu semenjak tahun 1916 dipatenkan menjadi merek dagang resmi dan beredar ke seluruh dunia. Nah, Petromax berasal dari  gabungan kata Petroleum (minyak) dan Max sang penemu.

Cara kerja lampu tekan ini cukup menarik. Awalnya, kaos lampu dipanaskan dengan menggunakan spiritus, lalu tangki tertutup yang berisi minyak tanah,- sebagai bahan bakar- harus dipompa agar menghasilkan tekanan yang cukup. Panas dari  kaos lampu berfungsi untuk menguapkan minyak tanah. Tekanan udara hasil pemompaan inilah yang digunakan “meniupkan” uap minyak tanah ke arah kaos lampu agar terus berpijar.

Seingatku, ada dua jenis lampu petromax saat itu. Jenis pertama, bagian lampu menyatu dengan tangki minyak tanah pada bagian bawah. Di tangki itu ada tombol sebagai pompa tangan. Jenis yang kedua, bagian lampu saja terpisah dari tangkinya.

8450460234456896

Sumber dari sini, gambar kupinjam dari sini.

****

(more…)

Sudah dua bulan ini, masyarakat di Sulawesi Selatan telah terbiasa dengan pemadaman listrik bergilir yang bisa terjadi dua hingga tiga kali dalam sehari, dengan durasi padam 2-6 jam. Segitu parahkah? Oh iyaa….

Kemarau panjang telah menyebabkan surutnya volume air di Waduk Bilibili, yang berakibat tidak maksimalnya daya pembangkit listrik tenaga air. Sampai kapan? Wah, hanya Tuhan dan PLN yang tahu hihi….menurut desas desus, hingga akhir tahun ini, pemadaman akan terus terjadi. Doohh….

Dari seorang tetanggaku, kutahu, minggu lalu, diupayakan menurunkan hujan buatan, dengan biaya 2,5 juta rupiah dengan harapan agar volume air di sungai Masamba dan danau di sekitarnya akan bertambah sehingga kinerja PLTA Bakaru menjadi lebih maksimal. Hujan turun dengan derasnya, mengguyur wilayah kami, menghapus debu-debu tebal yang menutupi hijaunya daun hingga terlihat kotor dan tak segar. Kabarnya nih, masyarakat bersorak sorai, menyambut datangnya hujan yang lama tak turun, hebring euy….
Aih, sayang, alam lebih kuat. Tuhan memang diatas segala. Manusia boleh berusaha, Dia pula yang menentukan. Angin bertiup terlalu kencang, hingga, tak bisa ditolak, alih-alih air hujan buatan itu mengisi danau dan sungai, malah…..dia turun tepat ke atas laut!

(more…)

Next Page »