Avocado. Atau alpukat. Anda pasti pernah memakannya, paling tidak, pasti pernah melihatnya. Konon, buah dengan nama latin  Persea Americana ini berasal dari Amerika Tengah, dengan meminjam dari kata aslinya dalam bahasa Aztek yaitu ahuacatl (sumber: wikipedia)

Daging buahnya berwarna hijau kekuningan dan sangat lembut saat masak. Aku tak tahu persis berapa jenis alpukat ini. Yang jelas, ada yang berbentuk bulat, lonjong, atau seperti buah pear yang menggendut di bagian bawah. Ada yang rasanya tawar, ada yang terlalu lembek dan nyaris berair, ada pula yang daging buahnya terlalu tipis. Nah, alpukat mentega adalah jenis yang menurutku paling enak. Disebut demikian karena teksturnya yang sangat lembut, berwarna kuning dan rasanya gurih lezat seperti mentega.

daging buah yang lembut dan gurih...

****

(more…)

Seorang tetanggaku di Muntilan,  Bu BS, bercerita. Suatu hari, dia membeli sepotong gori (nangka muda), kira-kira ¼ bagian buah bergetah lengket itu, lalu dimasaknya menjadi sayur nangka yang lezat.

“Dua hari lalu, aku beli sepotong gori, besarnya segini”, katanya sambil menunjukkan ukurannya dengan mengacungkan tangannya sebatas siku.

“Lumayan, Rp 750,-. Karena aku masih punya bumbu-bumbu di dapur, jadi hanya kubeli gori itu thok. Sampai di rumah, kumasak gori itu menjadi sepanci sayur gori yang cukup untuk kami berdua selama 3 hari. Rasanya enaaaaakkk sekali. Sampai suamiku nambah nasi lagi”. Dia tersenyum.

Bu BS melanjutkan ceritanya.

“Nah, kemarin itu, aku memanaskan sayur gori itu, masih lumayan banyak, bahkan  bisa cukup untuk makan hari ini… lalu aku ingat, harus beli tempe atau tahu untuk lauk. Jadilah aku belanja di warung depan rumah. Ndilalah, aku kelalen, sampai di rumah, tercium bau gosong! Waaah….cepat-cepat aku ke dapur. Di situ sudah penuh asap. Dan…..sayur nangka yang enak itu sudah gosong,  hitam seperti arang! Kering melekat berkerak di dasar panci, nggak mungkin lagi bisa dimakan….”.

(more…)

Bebek dan Ayam

Dari kecilku dulu, kami terbiasa makan malam bersama. Saat kami sudah bisa makan sendiri, maka kami harus berusaha makan sendiri, tak lagi disuapin. Tapi tentu saja, papa atau mama masih membantu memotong daging yang agak liat dengan sendok, karena kami belum bisa melakukannya sendiri. Urusan mengantarkannya ke mulut, naaaah..itu urusan masing-masing!

Kami dibiasakan untuk mengambil nasi secukupnya. Kalau kurang, boleh nambah lagi, dengan syarat, nasi yang ada di piring harus habis.

Namanya anak kecil, wajarlah bila nasi berceceran di luar piring. Hmm…lumayan banyak juga…

OK, nasi yang sudah tercecer tak boleh lagi dimakan, karena sudah kotor. Aku ingat, orang-orang dewasa di rumahku saat itu, tak ada yang mencela kami. Uniknya, nasi yang berceceran itu dianggap sebagai “bebek”. Nah, bebek-bebek yang keluar kandang itu dihitung, dikumpulkan jadi satu, untuk dijadikan makanan ayam besok pagi.

(more…)

Beberapa tahun yang lalu, sering kudengar istilah ini tapi tak kupahami artinya. Lalu, aku tahu teori tentang jetlag, tapi tak pernah merasakannya. Sekarang, beberapa kali aku mengalaminya.

Jetlag: a condition that is characterized by various psychological and physiological effects (as fatigue and irritability), occurs following long flight through several time zones, and probably results from disruption of cicadian rhythms in the human body. ( Webster’s Ninth Collegiate Dictionary, 1985)


Jetlag kurang lebihnya adalah kondisi “rumit” yang dikenali dari gejala/efeknya yang melibatkan sisi fisik, -seperti rasa capek luar biasa dan mengantuk (tidak semua), serta lungkrah-, dan sisi psikologis ,-mudah marah, lesu, tak bersemangat-. Jetlag ini biasanya muncul beberapa saat setelah kita mengalami penerbangan melintasi zona waktu yang berbeda-beda. Mungkin juga, hal ini terjadi karena kita terbang melawan arah perputaran bumi.

(more…)

Rasanya sudah lama sekali blog ini terabaikan. Selama mudik ini, aku memang jarang sekali On Line.

Sebabnya? hmmm…banyak sekali…nantilah kuceritakan satu persatu.

Sebulan aku mudik, sedikit lama dari rencana semula. Aku sampai di Yogya tanggal 20 Desember bersama suami. Suamiku kembali ke Sulawesi terlebih dahulu karena pekerjaan kantor yang selalu menggunung. Sementara aku memutuskan untuk extend di Yogya untuk menunggu kakakku yang pulang dari Jerman  tanggal 11 Januari ini. Jadilah, rencanaku kembali ke Sulawesi tanggal 17 Januari.

Ternyata, oh ternyata….

Suamiku memberitahuku, bahwa dia harus keluar kota tanggal 18-21 Januari. . Wah, apa asyiknya kembali ke rumah tapi ditinggal lagi 4 hari? weeww…..

(more…)

Saat aku masih kecil, papa tak pernah lupa memeriksa kuku-kuku kaki dan tangan kami. Hari Minggu siang atau sore, adalah waktu kami antri di depan papa lalu papa menggunting kuku kami dengan gunting kecil, sekaligus memeriksa kebersihan telinga kami. Seperti biasa, pada Senin pagi guru kami memeriksa kebersihan kuku, rambut dan telinga kami.

Kami jarang sekali ditegur guru gara-gara kuku yang kotor. Kuku kami selalu bersih rapi. (catat: Senin pagi ya, setelah itu, kukuku menghitam karena bermain dan pegang bermacam-macam benda sepanjang minggu..hihi..)

Hal itu berlangsung hingga aku  kelas dua SD. Aku mulai berani mencoba-coba potong kuku sendiri, dengan pemotong kuku dewasa! Cetik…cetik…cetik….hmmm….lumayan sukses…

Aku lupa persisnya kapan aku benar-benar mengurus kukuku sendiri. Suatu hari, entah bagaimana, aku merasa kesakitan pada jariku. Rasanya seperti ada luka di bawah kuku,  perih seperti tersobek.

(more…)

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(lyrics by Sapardi Djoko Damono)

****

“Nana….mana suamimu?”

“Upload foto terbaru dong dengan suamimu”.

“Yang mana nih suamimu?”

begitulah pertanyaan yang sering terlontar dari kawan-kawan mayaku, maupun kawan-kawan lama yang ketemu lagi di Facebook.

Well, mereka memang penasaran dengan siapakah suamiku, karena status di Facebook-ku: married. Tapi tanpa embel-embel married to somebody.

Foto-foto album FB juga zonder suami. hehe…iya dong kan dia yang memotret..

Beberapa waktu yang lalu  aku juga tak mengungkapkan siapa suamiku sebenarnya di dunia blog. Jadi memang wajar jika tak semua sahabat blogger yang mengetahui status kami yang sebenarnya.

Di jagat maya kami memang “hanya” bersahabat biasa, netral sangat, tanpa pernah ada ungkapan “sayang” atau “honey”, apalagi “hubby” (duh, aku paling nggak suka istilah ini…) aku lebih suka menyebutnya my husband atau suamiku. no way for hubby…hihihi

Nah, meskipun telah ditodong konferensi pers oleh Uda Vizon dan Bu Tuti waktu kopdar tanggal 27 Desember lalu, -hingga semakin jelas terbukalah status kami-, untuk sekarang dan seterusnya, kami akan tetap bersahabat di dunia maya. Kami menikah sah dan resmi secara agama dan hukum negara hanya di dunia nyata. Well, begitulah komitmen kami…

Nah, inilah pria yang memilihku berikrar setia di depan altar tepat hari ini empat tahun yang lalu.

di depan altar ini kami mengikat janji setia

Alberto Marsekal Wibawa nama lahirnya, pria yang menjadi suamiku dan Broneo nama dunia maya-nya, yang menjadi sahabatku:

Terima kasih untuk setia mendampingiku selama empat tahun kebersamaan kita dalam suka duka kita.

Tak banyak yang bisa kujanjikan di hari-hari mendatang, dengarlah lagu ini, karena hanya cinta  sederhana yang kupunya…untukmu…

****

Para sahabat blogger semua, Selamat Tahun Baru! Semoga tahun mendatang menjadi tahun yang penuh kebahagiaan dan sukacita. Tuhan memberkati…

Pulang kampung! Akhirnyaaa…. Berhasil juga kami pulkam, setelah sempat dag dig dug dalam ketidakpastian apakah kami bisa bermalam Natal tepat waktu bersama keluarga di Jawa; sebab, sehari sebelum hari rencana kepulangan kami, ijin cuti dari kantor suami belum juga disetujui. Gregetan deh…

Kami tiba dengan selamat di Yogya hari Minggu 20 Desember jam 22, setelah penerbangan tertunda selama hampir 3 jam. Ah, burung satu itu memang katanya tak pernah ingkar janji, tapi kok sering delay ya! Hihi…

Selama seminggu di Jogja dan Muntilan, aku hampir tak pernah membuka blog dan Facabook. Jadi mohon maaf , selama ini aku tak pernah BW dan upload tulisan terbaru. Aku dan suami benar-benar ingin menikmati waktu liburan dengan semaksimal mungkin. Jadi untuk sementara laptop,  modem dan dunia maya ditinggalkan dulu, agar kami bisa puas berkumpul dengan kerabat, orang tua dan sahabat.

(more…)

Aku benci dokter gigi. Uh. Beneran…sumprit…

Sebabnya, dulu waktu aku masih kecil, aku punya pengalaman buruk dengan dokter gigi.

Waktu awal kelas satu SD, suatu pagi, aku merasakan lidahku menyentuh sesuatu yang aneh di dasar mulut, di dekat gigi seri bawah.

Nah, saat aku mencoba lihat ada apa di dalam mulutku, ternyata kutemukan sebentuk warna putih samar menyembul dari dalam gusi. Kuraba dengan lidahku, dan kusadari itu adalah gigi baru yang mulai tumbuh. Sementara itu..gigi lamaku masih utuh, tak berniat untuk goyah sedikit pun.

Kulaporkan hal ini pada mama. Mama memeriksa gigiku, manggut-manggut.

Lalu giliran nenekku yang memeriksa gigiku.

“Hmmm…sepertinya harus dicabut”.

WHAT??? DICABUT??  D-I-C-A-B-U-T!

(more…)

Next Page »