Adalah sebuah tempat bernama Code di Yogyakarta. Apa sih istimewanya tempat ini?

Hmmm….banyak sekali yang ingin kuceritakan tentang tempat ini.

Jujur saja nih, tempat ini jauh dari estetika keindahan dan kebersihan. Di kala hujan, sampah mudah menyangkut di sana-sini. Di saat kemarau, hmm…baunya menyengat sekali.. karena air tak mengalir, maka segala sisa sampah rumah tangga teronggok di selokan di bawah rumah penduduk. Jangan coba menghitung lalat yang setia bersarang di sana….

Code, sebenarnya adalah kali yang membelah tepat di tengah kota Yogyakarta. Tak jelas sejak kapan bantaran kalinya ini mulai dihuni. Namun sampai kini, lokasi sepanjang kali ini tampaknya semakin padat saja..

Alkisah, pemukiman padat di bawah jembatan yang identik dengan kaum marginal (baca: pengemis dan pemulung) ini pernah suatu waktu di tahun 1983 hendak digusur oleh pemerintah kota. Saat itu, beberapa orang bereaksi dengan idealisme dan kepentingan masing-masing.

Seorang sederhana berjiwa besar dan bersahaja, berjuang keras untuk membela kaum terpinggirkan ini. Dialah Romo Y.B Mangunwijaya, seorang romo yang juga seorang sastrawan, sekaligus arsitek- yang terus berjuang dengan nyata untuk membela sekaligus memberdayakan masyarakat ini.

Beliau membangun rumah-rumah penduduk yang jauh lebih layak untuk dihuni. Beliau juga membangun sebuah rumah panggung yang oleh masyarakat di situ digunakan untuk berkumpul, saling bertukar informasi dan juga sebagai tempat untuk menerima tamu dari luar. Tak hanya itu, lingkungan pun ditata dengan melibatkan masyarakat. Tempat yang tadinya jauh dari higienis, pelan namun pasti berubah menjadi layak ditinggali dengan nyaman.

Lambat laun, kehidupan masyarakat Code mulai tertata. Pembagian teritori kelurga menjadi jelas, meskipun dalam rumah yang sangat amat sangat sederhana. Yah, setidaknya, rumah itu dapat melindungi mereka dari terik matahari dan air hujan.

(more…)

Saat pindah ke suatu tempat baru, pasti kita disibukkan dengan acara mencari rumah tempat tinggal. Nah, ada empat hal yang paling berkesan untukku saat mencari rumah kontrakan di salah satu kota di Sulawesi Selatan ini, beberapa bulan yang lalu.

Rumah Pertama

Rumah ini terletak di tengah kota. Berdempetan dengan rumah warga lainnya. Kami mendapatkan info tentang rumah ini dari seorang kenalan. Saat kami datangi, rumah ini sangat terbengkalai. Maklum, rumah ini tengah direnovasi. Jujur saja, aku tak melihat keindahan rumah ini. Bahkan membayangkannya dalam keadaan bersih dan rapi layak huni pun sangat sulit.

Sang pemilik rumah menjanjikan dalam 2 minggu rumah ini akan selesai renovasi. Aku menyangsikan rumah itu akan selesai dalam kurun waktu itu. Kami nggak mau dong terlalu gegabah gambling dengan menyerahkan uang muka begitu saja meskipun sang pemilik rumah meyakinkan kami bahwa rumah tersebut akan segera diselesaikan tepat waktu…

Sekian bulan berlalu, sekitar 2 minggu lalu kami lewat depan rumah itu. Aku dan suami tak bisa berkata banyak. Rumah itu masih berantakan. Renovasi tampaknya terhenti. Kami tak tahu sebabnya.

(more…)

Saat aku masih kecil, belum ada listrik di kampung kami. Seluruh kampung gelap gulita di waktu malam. Untuk penerangan, kami menggunakan pelita berbahan bakar minyak tanah, yang lebih sering disebut lampu teplok. Bila sore tiba, papa dan mama menyalakan teplok-teplok itu.

Sebagai penerangan utama di dalam rumah, kami menggunakan sebuah lampu petromax.  Sebenarnya, Petromax adalah mereka dagang resmi, yang lalu latah dipakai secara umum untuk lampu sejenis meskipun jelas-jelas mereknya berbeda. Lampu ini disebut juga lampu tekan atau pompa yang ditemukan oleh Max Graetz pada tahun 1900. Lalu semenjak tahun 1916 dipatenkan menjadi merek dagang resmi dan beredar ke seluruh dunia. Nah, Petromax berasal dari  gabungan kata Petroleum (minyak) dan Max sang penemu.

Cara kerja lampu tekan ini cukup menarik. Awalnya, kaos lampu dipanaskan dengan menggunakan spiritus, lalu tangki tertutup yang berisi minyak tanah,- sebagai bahan bakar- harus dipompa agar menghasilkan tekanan yang cukup. Panas dari  kaos lampu berfungsi untuk menguapkan minyak tanah. Tekanan udara hasil pemompaan inilah yang digunakan “meniupkan” uap minyak tanah ke arah kaos lampu agar terus berpijar.

Seingatku, ada dua jenis lampu petromax saat itu. Jenis pertama, bagian lampu menyatu dengan tangki minyak tanah pada bagian bawah. Di tangki itu ada tombol sebagai pompa tangan. Jenis yang kedua, bagian lampu saja terpisah dari tangkinya.

8450460234456896

Sumber dari sini, gambar kupinjam dari sini.

****

(more…)

Sudah dua bulan ini, masyarakat di Sulawesi Selatan telah terbiasa dengan pemadaman listrik bergilir yang bisa terjadi dua hingga tiga kali dalam sehari, dengan durasi padam 2-6 jam. Segitu parahkah? Oh iyaa….

Kemarau panjang telah menyebabkan surutnya volume air di Waduk Bilibili, yang berakibat tidak maksimalnya daya pembangkit listrik tenaga air. Sampai kapan? Wah, hanya Tuhan dan PLN yang tahu hihi….menurut desas desus, hingga akhir tahun ini, pemadaman akan terus terjadi. Doohh….

Dari seorang tetanggaku, kutahu, minggu lalu, diupayakan menurunkan hujan buatan, dengan biaya 2,5 juta rupiah dengan harapan agar volume air di sungai Masamba dan danau di sekitarnya akan bertambah sehingga kinerja PLTA Bakaru menjadi lebih maksimal. Hujan turun dengan derasnya, mengguyur wilayah kami, menghapus debu-debu tebal yang menutupi hijaunya daun hingga terlihat kotor dan tak segar. Kabarnya nih, masyarakat bersorak sorai, menyambut datangnya hujan yang lama tak turun, hebring euy….
Aih, sayang, alam lebih kuat. Tuhan memang diatas segala. Manusia boleh berusaha, Dia pula yang menentukan. Angin bertiup terlalu kencang, hingga, tak bisa ditolak, alih-alih air hujan buatan itu mengisi danau dan sungai, malah…..dia turun tepat ke atas laut!

(more…)

Kemarin, aku sedang kepengen memanjakan diri. Mumpung sedang di kota besar, hihihi…
Jadilah aku ke salon, untuk creambath, merawat rambutku. Aku tak pernah ingin mewarnai rambutku seperti pernah kuceritakandi sini. Jadi, urusanku ke salon yang lumayan jarang itu hanya untuk potong dan creambath.

Kupilih sebuah salon yang terlihat tidak terlalu rame. Nggak apa-apa lah, pikirku dalam hati. Daripada keliling-keliling mal sendirian nggak jelas, kupilih untuk masuk ke sebuah salon.

Setelah mendaftar, dan menuggu sebentar, aku pun segera dilayani.
Seorang mas-mas yang lumayan ganteng, mempersilahkan aku mengikutinya menuju tempat cuci rambut.

Kuakui, mas ini mencuci rambutku dengan teliti, dengan pijatan lembut dan juga sopan. Aku rela kepalaku diuyel-uyel tangannya. Hihi…( doyan brondoooong…..)

Aku salut pada mas ini, di saat kawan-kawannya heboh ngobrol bergosip dan cekikikan nggak jelas, mas ini tak cerewet seperti teman-temannya. Dia begitu tekun dan berhati-hati.

Dengan ramah, dia menanyaiku, krim apa yang kuinginkan untuk merawat rambutku. Aku menjawab, apa sajalah, yang sesuai untuk mencegah kerontokan rambut. Lalu dia menyarankan untuk memakai krim gingseng.

OK, jadilah.
Sedikit demi sedikit krim itu dioleskan ke rambutku, sambil si mas itu memijat kulit kepalaku.
Hhmmm…enak sekali pijatan mas ini. Aku sangat menikmatinya hingga terkantuk-kantuk.
Mas itu bilang, “Aih, rambut Kakak bagus…”
Si mas ini feminin sekali ternyata. Agak gemulai memang, tapi nggak genit dan lebay.
“Terima kasih”, jawabku.

“Rambut Kakak masih virjin ya?”
“…??…”

(more…)

Ketika aku masih kelas 3 SD, papa mengajari aku dan kakakku naik sepeda. Di halaman sebuah SD Negeri di kampungku, setiap sore, kami giat berlatih.

Bergantian dengan kakak menggunakan sepeda mama, kami harus terlebih dulu belajar menuntun sepeda yang lumayan besar. Setelah lancar menuntun tanpa menjatuhkan sepeda itu, kami mulai berlatih mengayuh. Dengan gigih kami terus berusaha. Jatuh bangun hingga babak belur tak meruntuhkan semangat kami.

Awalnya, papa memegangi bagian belakang sepeda agar sepeda kami tak oleng. Lalu kami mulai berlatih sendiri tanpa bantuan papa.

Serdek…serdek…..serdek…begitu bunyi pedal yang kami kayuh pendek-pendek dengan kaki kanan, sementara kaki kiri masih menjejak tanah. Pelan-pelan, kaki kiri mulai berusaha menjejakkan kaki di pedal. Serabutan. Tak semudah melihat orang yang berlatih, -ternyata, melakukannya sendiri,  sulit!

GRUBYAK!!

Bunyi yang khas itu menandakan bahwa orang yang tengah giliran berlatih sepeda itu jatuh, entah menimpa sepeda atau tertimpa sepeda. OK, saatnya kami lari mendapatkan sang korban dan bergegas menolong.

Kami harus bergelut dengan luka-luka yang perih untuk menguasai kunci kesuksesan naik sepeda: keseimbangan. Butuh waktu agar kami bisa melakukannya.

Senang sekali lho, ketika berhasil naik sepeda sendiri. Kadang-kadang masih oleng ke kiri dan ke kanan. Tak jarang pula terlambat mengerem, sehingga sebelum menabrak pagar atau sesama pembelajar sepeda, kaki-lah yang menjadi rem darurat, terjun kalang kabut menggeresek-geresek di tanah menahan laju sepeda. Hihihi…

Lalu,  papa membelikan kami sebuah sepeda mini bekas berwarna biru. Aku dan kakakku senang sekali, sebab, kami dijanjikan boleh naik sepeda mini itu ke sekolah. Yippie!!!!

Tapi…eiits…tunggu dulu! Jangan harap papa akan mengijinkan kami naik sepeda ke sekolah begitu saja sebelum kami menguasai teknik delapan.

Apa itu ya?

(more…)

Masih ingat Si Unyil?
Yap, salah satu dari sedikit sekali tontonan untuk anak-anak yang terkenal di era 80-an yang disiarkan tiap hari Minggu di TVRI ituuuhh…
Aku dulu suka sekali nonton Si Unyil produksi PPFN ini. Aku masih ingat, desa si Unyil bernama desa Sukamaju. Tokoh-tokohnya pun aku masih ingat, ada Usro, Ucrit, Cuplis, Kinoi, Meilani, Pak Raden, Pak Ogah dan Pak Ableh. Masih ada yang lain tentu, tapi tokoh-tokoh inilah yang paling sering muncul dalam cerita.

Nah, dulu aku heran, nama para orang tua di dalam serial itu kok sama dengan nama anak mereka yang pertama ya? Orang tua Si Unyil dipanggil dengan Pak dan Bu Unyil, orang tua Cuplis dipanggil Pak dan Bu Cuplis.

Aku pun bertanya-tanya, apakah Pak Raden itu punya anak bernama Raden?

Aku heran sekali saat itu. Sebab, menurutku, seharusnya orangtualah yang memberi nama anaknya, lah ini kok malah anak yang “memberi” nama pada orangtunya?

Misalnya, kalau seorang bapak bernama Ucrit, lalu memberi nama anak pertama mereka dengan nama Ucrit, kok nggak kreatif banget sih? kan kasian anak-anak berikutnya yang tak diberi nama seperti orangtuanya?

Yah, itu pikiran kanak-kanakku dulu.

Well, aku tak akan membahas lebih lanjut tentang nostalgia bersama Unyil era 80-an itu. Ini tentang rupa-rupa orang memperkenalkan diri.

Di tempat tinggalku di Muntilan, Jawa Tengah, anak-anak akan memperkenalkan diri dengan namanya sendiri,  malah, kadang-kadang menyebutkan nama ayah, ibu atau bahkan simbahnya (nenek atau kakek) sebagai info tambahan. Misalnya nih, “Nama saya Heru, (anaknya Pak Uki)”. “Saya Asih, (cucunya Mbah Amat)”.

Begitu juga, orang tua dan dewasa juga menyebutkan namanya sendiri meskipun kepada anak-anak.  Misalnya, ” Saya biasa dipanggil Mbah Mitro”, dan  “Saya Pakde Partomudji”.
Ya seperti itulah, nama punya peran penting dan dipakai untuk memperkenalkan diri sendiri, kepada orang dewasa atau kepada anak-anak, dan tidak mewakilkan siapapun selain dirinya pribadi.

Seingatku, para nyonya senior (baca: tua) dipanggil sesuai nama suami mereka, menjadi “Mbah Mitro Setri” (artinya perempuan, lawan dari kakung, – laki-laki) dan “Mbokdhe (Bude) Partomudji”

(more…)

Di tahun keduaku tinggal di Jakarta beberapa tahun yang lalu, aku sempat indekost di sebuah keluarga Minang. Mereka berasal dari kota Padang. Si empunya rumah, aku memanggilnya Bu Haji, sangat ramah dan baik. Begitu pula dengan Kak Lin, anaknya yang tinggal di situ juga, dengan keempat anaknya yang masih kecil-kecil. Semua akrab. Yang tak kukenal baik adalah suami Kak Lin, biasa dipanggil Uda T*****. Bukan apa-apa, aku merasa tak nyaman terlalu lama berada dalam satu ruangan bersama Uda T*****.

Mungkin banyak yang heran, mengapa aku memilih tinggal di sebuah keluarga, dan bukan tinggal di kamar kos yang memang khusus untuk kos para lajang.

Well, aku telah berusaha mencari kamar kos. Tapi di daerah yang dekat sekolah tempat aku mengajar memang rata-rata biaya kos sangat mahal untuk ukuran kantongku. Jadi aku harus pintar-pintar memilih agar aku bisa bertahan hidup dan gajiku tak habis hanya untuk biaya kamar kos perbulannya.

Bersama kawanku, aku mencari kamar di daerah yang tak terlalu jauh dari sekolahku. Menurut kawanku yang pernah tinggal bersama sebuah keluarga Bali, lebih enak tinggal di sebuah keluarga karena pasti aman dan bisa pula membayar lebih untuk ikut makan malam di dalam rumah tersebut. Jadi keuntungannya, tak perlu repot-repot mencari makan malam sendiri.

Setelah sekian lama mencari, dan mepetnya waktu, aku menemukan kos yang paling  (sesuai) aman saat itu, di sebuah keluarga Minang.

Jadi, tinggallah aku di situ.

Segera aku berbaur dengan keluarga yang menyenangkan ini.

Bu Haji sangat rajin beribadah. Setiap waktu sholat, Bu Haji selalu pergi ke mushola dekat rumah. Setahuku, tak pernah absen, deh..

Di waktu malam, selalu kudengar Bu Haji mengaji di dalam kamarnya. Aku tak paham artinya, tapi suaranya terdengar khusyuk mendayu. Sepertinya memang Bu Haji sangat menjiwai ayat-ayat yang dilantunkannya.

****

Aku selalu membeli makan malam sendiri. Aku pulang dari memberi les di atas  jam 6 sore, lalu sekalian makan, baru pulang ke kos.

Setiap kali pulang dari mushola bagda Isya, Bu Haji pasti mengetok kamarku, lalu menawariku makan. Bahkan tak jarang memaksa. Jadi, untuk menghormati Bu Haji, aku “menemani” Bu Haji makan dengan sepiring nasi dan lauk hihihi….

Aku selalu mengambil nasi sedikit. Biasanya Bu Haji menegurku. Kok makanku sedikit sekali, lalu byuk….Bu Haji menuang nasi secentong penuh ke piringku…wuahh….perjuangan tersendiri untuk bisa menghabiskannya karena aku sudah makan beberapa saat sebelumnya.

(Menurut Bu Haji, tawaran orang Minang pantang ditolak. Aku tak tahu pasti hal ini, dan sepertnya harus bertanya pada Uda Vizon, nih. Benar nggak hal ini Uda?. Atau ini hanya siasat Bu Haji agar aku mau menerima tawarannya?).


Nah, namanya orang Minang, pasti pula menu yang terhidang adalah menu masakan Padang yang pedas dan bersantan kental. Rendang daging buatan Bu Haji enaaakkk sekali, sampai kini pun, tak ada yang bisa menandingi kelezatannya.

Menu yang tak boleh absen di meja makan adalah sambal cabe hijau yang khas rasanya atau sambal cabe merah yang pedas minta ampun. Kadang pula, tersedia di meja makan balado pindang, gulai udang, kering teri dan sambal pete.

Bu Haji sering menerima pesanan rendang kering paru sapi. Ini juga keuntungan bagi penghuni rumah. Sebab serpihan paru yang kaya bumbu itu boleh dinikmati penghuni rumah lainnya. Bu Haji sendiri tak tertarik untuk membuka usaha katering, Bu Haji hanya melayani pesanan masakan rumahan yang dipesan pribadi oleh sang pelanggan.

Aku sering kali tak enak hati pada Bu Haji, sebab berdasar perjanjian, aku hanya membayar sewa kamar kos tanpa makan.

Sayangnya, perutku yang sensitif terhadap pedas dan santan pun akhirnya berontak. Maag-ku kambuh.

Sejak saat itu, aku hati-hati sekali menerima tawaran Bu Haji. Lama-lama tak enak juga makan gratis hampir setiap hari. Kadang-kadang, aku sengaja tak menjawab saat Bu Haji mengetok pintu kamarku. Pura-pura tidur..*maaf Bu Haji…

Di keluarga itu tinggal pula seorang gadis dari Padang. Jadi kalau kami tengah berkumpul di ruang keluarga, mereka seru sekali ngobrol dalam bahasa Padang. Aku satu-satunya orang yang tak paham. Kak Lin kadang menerjemahkan guyonan mereka kepadaku.

Lebih sering sih, aku memilih yang lebih nyaman untukku; menemani belajar cucu Bu Haji, -Akbar, yang duduk di kelas 5 SD. Kebetulan, Akbar ini suka sekali Bahasa Inggris.

****

Mobilitasku lumayan tinggi, apalagi Sabtu dan Minggu, saat aku pergi seharian dan pulang jam 10 malam. Memang sih, aku memegang kunci sendiri, -kunci gembok gerbang, pintu depan dan pintu kamarku. Tapi, Bu Haji sering menggerendel pintu depan dari dalam, sehingga aku tak bisa masuk. Bu Haji terpaksa bangun untuk membukakan pintu. Pernah juga, sesuai kesepakatan, pintu tak digerendel, hanya dikunci saja. Tapi, Bu Haji lupa mencabut anak kuncinya, jadi tetap aja, pintu tak bisa dibuka dari luar.

Kami menggunakan kamar mandi yang sama. Sebenarnya, ada satu kamar mandi khusus di dalam rumah. Sedangkan satu lagi di belakang. Kamar mandi inilah yang dipakai anak-anak kost. Tapi rupanya, cucu-cucu Bu Haji lebih suka menggunakan kamar mandi ini. Begitu juga dengan uda T*****. Pernah, aku berpapasan dengannya di depan kamar mandi. Dia hanya memakai selembar handuk. Dooohhh….


Sering pula dia berkeliaran di dalam rumah hanya bercelana pendek dan bertelanjang dada. Di saat-saat kudengar dia ada di rumah, aku memilih untuk ngumpet di kamar.

Aku berpikir, bahwa aku lebih baik mencari kamar kos di mana aku akan merasa lebih nyaman. Pastilah lebih mahal, tapi memang itulah harga yang harus kubeli demi privasiku.

Aku tinggal bersama keluarga ini hanya 1 bulan. Baru sesaat kami dekat, tapi aku terpaksa pindah, demi kebaikan bersama. Dengan agak berat Bu Haji melepasku, sebab selain sudah merasa dekat, hmmm, penghasilan tambahannya pun akan berkurang.

Aku bersyukur boleh tinggal di keluarga tersebut yang mengijinkan aku masuk menjadi bagian dari mereka di Jakarta. Sungguh suatu pengalaman yang berharga.

****

(Beberapa hari lalu, gempa besar melanda Padang dan sekitarmya. Kulihat tayangan di TV, betapa mengerikan akibat gempa itu. Miris aku melihatnya. Aku jadi teringat akan keluarga Bu Haji di Jakarta. Pastilah mereka cemas akan nasib kerabat mereka di Padang sana.

Aku hanya bisa berharap dan mendoakan semua kerabat mereka selamat, sehat tak kurang suatu apa pun. Begitu juga, dengan kerabat dan famili para sahabatku yang berasal dari Ranah Minang: Uda Vizon, Arif, Uni Marshmallow, Puak dan Uni Dede. Semoga semua orang yang mereka cintai  selamat dan selalu dalam lindungan Tuhan…Amin).

Dulu, sewaktu aku masih kecil, Lebaran di kampung selalu punya suasana khas. Malam Lebaran, gema takbir berkumandang hingga pagi. Tanpa putus. Lalu pagi-pagi betul, mama sibuk menyapu rumah dan jalan di depan rumah. Mama selalu bilang, jalan harus dibersihkan sebelum orang-orang di kampung berlalu lalang untuk sholat Ied dan bersilaturahmi satu sama lain.

Aku juga ikut memakai baju bagus seperti halnya teman-temanku yang merayakan Lebaran. Seru lhooo…..Aku ingat gembiranya aku saat pernah ikut rombongan teman-temanku mengunjungi rumah para tetangga, bersalaman,  mengucapkan maaf, lalu si pemilik rumah memberi semacam kata-kata bijak dan tak lupa pula minta maaf (sebab orang dewasa, orang tua pun bisa melakukan kesalahan).

Nah, di daerah asalku, silaturahmi ini disebut “ujung”.

Mama membolehkan kami ikut ujung, tapi mama melarang kami menerima uang dari penghuni rumah yang kami kunjungi, sebab, itu bukan hak kami. Pemahamanku waktu kecil, uang yang diterima teman-temanku itu memang layak mereka dapatkan sebagai hadiah karena telah berpuasa sebulan penuh. Aku tak berhak mendapatkan uang karena aku tak berpuasa.

****

Silaturahmi memang harus terus dipertahankan karena kehangatan dan keakraban kental terasa tak hanya bagi keluarga dan kerabat tapi juga para tetangga yang seolah telah menjadi saudara bagi kita. Sempat aku terharu saat kusadari hal ini setelah dewasa, apalagi kegembiraan silaturahmi semasa kecil tak mungkin kembali seperti telah diceritakan Uda Vizon di sini.

Lebaran kali ini, aku dan suamiku tak mudik. Kami mencoba menikmati suasana Lebaran di tempat tinggal kami sekarang. Kami berencana “ziarah” ke rumah-rumah tetangga. FYI, ziarah adalah istilah setempat untuk silaturahmi. Sayang, hanya dua keluarga yang tetap tinggal dan  bisa kami kunjungi, lainnya, mudik ke kampung halaman masing-masing.

Hari Lebaran pertama, kami kedatangan tamu. Sekelompok anak-anak tetangga ramai-ramai datang ke rumah. Saat kutanya, mereka ini  duduk di kelas satu dan dua SD.

Lucunya, mereka masuk lewat pintu belakang! Tetap kupersilakan mereka masuk ke ruang tamu. Wuah….aku bingung setengah idup.

Matiiiiih…..gue gak punya uang untuk salam tempel!!

(more…)

Kami tak merayakan Idul Fitri. Tapi, waktu aku kecil dulu, di rumahku tak kalah heboh dengan mereka yang berpuasa dan merayakan Lebaran.

Sehari sebelum lebaran, mama pasti sudah membuat hidangan khas Lebaran. Ketupat atau lontong berikut opor ayam. Tak ketinggalan sambal goreng ati dan krecek. Kami selalu antusias membantu mama mengisi selongsong ketupat. Sayangnya, kami tak pernah membuat selongsong ketupat sendiri, karena tak seorangpun di rumah kami yang bisa membuatnya hihihi…

Kadang mama titip membelinya di pasar. Lebih seringnya sih, ketupat diganti dengan lontong yang lebih mudah dan prakatis.

Heits…tunggu! praktis?? Wah, jangan salah!

Ternyata, membuat lontong itu gampang-gampang susah! Bungkus lontong dari daun pisang harus dibentuk terlebih dahulu, baru diisi beras yang telah dicuci sebanyak sepertiga kapasitas selongsong lontong itu. Hmm…tampaknya, ilmu kira-kira berlaku pula disini. Sebab, kalau terlalu sedikit, lontong menjadi lembek tak bisa terisi penuh. Kalau terlalu banyak, bisa-bisa lontong itu njebrot! Kalau daun pembungkusnya -yang minimal dua lapis itu- masih sanggup menahan, lontong itu akan menjadi terlalu padat dan akibatnya, susah pula waktu dipotong-potong.

Nah, setelah bungkus itu disemat dengan lidi, lontong itu pun harus direbus selama kurang lebih dua jam dengan api sedang. Api yang terlalu besar akan membuatnya cepat masak, tapi belum tentu bagian dalamnya pun masak dengan sempurna. Para lontong ini, harus terendam air selama proses perebusan. Setelah matang, lontong harus diangkat. Lontong tak boleh direndam terlalu lama jika sudah matang.

Dag dig dug rasanya saat lontong itu diangkat dari panci. Sukses nggak ya? Gagal kah?

Mendebarkan……

(more…)

Next Page »